Iman Sejati


Minggu, Desember 15, 2019

Salam Sejahtera bagimu yang dikuduskan Bapa dalam Kristus Yesus Tuhan dengan Kuasa Roh Kudus.
Salam jumpa kembali dalam blogger Kasih dan Kebenaran Yang Sempuna.

Kali ini penulis mengambil tema dari pemberita Firman Tuhan dari hambanya yang telah memberi ijin kepada penulis untuk membagikan tema pemberitaan beliau di blog ini dengan kolaborasi penulis blogspot.
Tema tersebut yakni: “Memurnikan Kembali Kemurnian Iman Sejati.” – Refined True Faith

Dimana Firman yang menjadi dasar pembahasan beliau diambil dalam Surat Petrus yang Pertama pasal 1 ayat 6 sampai 9 yang dituliskan demikian: “6Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. 7Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu  —  yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api  —  sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 8Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, 9karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”

Memurnikan Kembali Kemurnian Iman Sejati yang dimaksud adalah Kemurnian Iman yang sesungguhnya dimurnikan kembali untuk tujuan bagi setiap orang-orang kudus Kristus Yesus Tuhan semakin memiliki keteguhan iman sejati itu seperti yang dikehendaki Bapa. Sehingga, dalam perjalanan keyakinan setiap orang-orang kudus Kristus Yesus ke depan, dimana hari-hari di dunia ini akan semakin bertambah jahat menjelang kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali, tidak mengalami kegoncangan, kemunduran atau kehilangan keteguhan sejatinya berpegang kepada pengharapan mereka yang Hidup. Yang selalu berfirman Ya dan Amin, yaitu pengharapan yang terkandung dalam pengorbanan Kristus Yesus Tuhan. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

Mengapa Kemurnian Iman Sejati harus dimurnikan kembali? Banyak dari orang-orang kudus Kristus Yesus Tuhan, yang sudah murni imannya, oleh karena dia menganggap jalan hidupnya sudah sesuai Kebenaran Firman Tuhan dan sesuai perkenanan Tuhan, dia akan bisa mundur jika tetap dalam posisi datar, nyaman dan aman. Tapi tidak sadar posisi itu bisa landai perlahan-lahan oleh sesuatu hal yang kecil saja. Seperti batu kerikil, dia kecil tapi bisa membuat terpeleset dan terjatuh.

Dan Iman Sejati harus diuji kembali kemurniannya agar tercapai maksud dari Firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Petrus 1:6-9 tersebut yaitu membuktikan kemurnian nilai iman tersebut yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas agar beroleh puji-pujian, kemuliaan dan kehormatan pada hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus untuk yang kedua kalinya.

Itulah pentingnya suatu proses dalam kehidupan kekristenan yang sejati yang sudah memiliki iman yang sejati. Proses itu akan terus berlangsung sampai mencapai keserupaan dan kesegambaran dengan Allah Bapa dalam Kuasa Roh Kudus dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Tanpa cacat, tanpa kerut, tanpa noda. Tapi seperti pembahasan di atas, agar iman setiap orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan semakin bernilai melebihi emas.

Dimurnikan kembali kemurnian iman sejati setiap orang-orang Kudus Kristus bukan berarti pemurnian orang-orang kudus Kristus dari hasil reparasi. Hasil reparasi adalah hasil perbaikan yang hanya menggantikan bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Hasil reparasi itu sama dengan hasil polesan saja. Dan itu tidak berbicara keseluruhan kehidupan dari orang-orag Kudus Kristus Yesus Tuhan. Sedangkan pemurnian tersebut merupakan pembaharuan manusia seutuhnya sebagai ciptaan baru dalam Kristus Yesus Tuhan.

Ciptaan Baru mencakup keseluruhan kehidupan setiap orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan. Baik dalam cara berpikir atau pola pikir atau paradigmanya, cara pandang atau sudut pandang atau perspektifnya, dan cara menanggapi atau menindaki atau persepsinya. Ciptaan baru yang selalu baru dengan pembaharuin seluruh kehidupannya setiap hari.

Proses kekristenan dikatakan nilainya lebih dari nilai emas yang merupakan logam mulia. Seseorang yang bekerja dipertambangan logam sangat memahami proses emas dari awal yaitu emas tidak murni sampai menjadi emas yang murni dan bernilai mulia. Emas tidak murni pertama-tama harus melewati proses pencucian larutan kimia untuk meluruhkan besi dan logam utama di bagian utama dari emas yang tidak murni. Setelah itu meluruhkan kandungan perak. Setelah emas idak murni menjadi murni, dia akan melewati proses lagi agar dapat dibentuk seperti yang dikehendaki untuk bisa menjadi sesuatu yang dapat membuat orang kagum dan menempatkannya di tempat yang mulia dan aman karena merupakan barang berharga yang sangat mahal. Proses pembentukan emas murni ini akan melewati proses pembakaran dengan suhu 14000C di cuci lagi dengan bahan kimia yang lebih keras sampai benar-benar kemurnian emas murni itu menjadi kemurnian emas murni yang sangat amat mahal. Persis seperti tertulis dalam Yesaya 1:25 - Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya. Dan Yesaya 48:10 - Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.

Demikian pun kekristenan dalam melewati proses pemurnian kembali dari kemurnian imannya yang sejati. Proses itu pastilah akan masuk juga pada proses yang sangat amat menyakitkan. Tuhan akan mengijinkan pencobaan membawa setiap orang-orang kudus-Nya pada sesuatu yang seperti dilema. Pilihan seperti hendak makan buah simalakama.

Tapi Tuhan memerintahkan kita justru bergembira karena pencobaan tersebut merupakan suatu ujian yang biasa dan tidak melampaui kekuatan dan Dia berjanji memberikan jalan keluar, seperti tertulis dalam :
1 Petrus 1:6 - Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Karena, 1 Korintus 10:13 - Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Kegembiraan yang diperintahkan Tuhan kepada setiap orang-orang Kudus-Nya adalah berkenaan dengan hasil yang akan diterimanya dalam kehidupan pribadi setiap orang-orang Kudus Yesus Kristus Tuhan. Di saat orang-orang Kudus-Nya bergembira, mereka akan tahu juga selain menerima nilai kemuliaan salam seluruh hidupnya, penyertaan kasih setia Allah pun semakin sempurna adanya dalam seluruh kehidupannya. Seperti tertulis dalam Maleakhi 3:3 - Ia akan duduk (ada bersama) seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Dan kerinduan Tuhan untuk setiap orang-orang Kudus yang dilayakknya harus menjalani proses demi proses bahkan proses ulang adalah untuk setiap orang-orang Kudus-Nya tetap berpaut pada-Nya, menyembah Dia dan memuliakan Nama-Nya seperti tertulis dalam Zakharia 13:9 - Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: Mereka adalah umat-Ku, dan mereka akan menjawab: TUHAN adalah Allahku!"

Proses pemurnian ulang juga diperlukan dalam kehidupan kekristenan, karena banyak orang yang “menganggap dirinya telah murni imannya” justru sering mencerminkan kearoganannya dalam berbicara bersikap atau pun dalam berpikirnya. Misalnya saja seorang yang dikatakan orangtua, dia sudah pelayanan dengan selalu menyaksikan bagaimana ia selalu bertindak dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, bahwa bagi dia, karena memiliki Tuhan yang selalu sanggup melakukan suatu perkara yang dahsyat dan tidak ada satupun mustahil bagi Dia, maka baginya juga tidak ada satupun yang mustahil. Itu benar.

Tapi, dalam kesaksiannya itu, dia telah menyisipkan sesuatu arogansi, yang orang tidak fokus tidak akan menangkap pesan arogansinya dalam kesaksiannya atau pun saat dia menyampaikan atau membagikan Firman Tuhan. Saat seseorang yang di bawahnya dengan rendah hati mengikuti altar call yang orangtua itu sediakan, sampai di depan, dia malah mengejek orang di bawahnya itu dan bahjkan menghakimi dengan kata: “Loh kok hamba Tuhan bisa sakit. Bagaimana ini. Hidupnya pasti tidak benar ini.” Atau jika saat altar call ada yang kerasukan, maka dia mengklaim pelayan-pelayan kelepasan itu hidupnya tidak benar dan tidak banyak berdoa sehingga tidak ada sesuatu mujizat pun terjadi dengan pelayanan mereka. Dan bahkan, jika ada rekan pelayanannya mengadakan kelas “Training Doa” yang membahas tentang bagaimana menghidupi kebenaran Firman Tuhan itu sehingga menjadi perkataan Firman bahkan doa yang powerful, dia, orangtua itu, bahkan mengatakan bahwa doa itu tidak perlu belajar dan diajarkan.

Waow, arogan sekali bukan?!

Murid-murid Tuhan Yesus saja rindu memiliki kuasa doa yang dahsyat dan perkataan Firman-Nya yang sanggup memerdekakan umat-Nya, mereka minta kepada Tuhan Yesus untuk diajarkan doa. Dan Tuhan mengajarkan doa yang sederhana yang mana juga ditekankan untuk ada iman di dalamnya. Iman yang murni kepada kedaulatan Tuhan dan juga kehidupan yang murah hati dan rendah hati. Peduli akan kehidupan orang lain. Dan Tuhan Yesus tidak pernah menunjukkan sikap arogansinya untuk membuat umat-Nya terhalang belajar berdoa dengan powerful dan hidup dalam kebenaran Firman-Nya yang memerdekakan, dengan berkata doa tidak perlu diajar dan belajar. Pengajaran Tuhan Yesus tentang doa bertujuan untuk membuka pemahaman umat-Nya untuk berdoa dengan benar dan berkenan dihadapan-Nya. Dan bahkan Tuhan mengaruniakan Roh Kudus-Nya sebagai Pribadi yang membantu umat-Nya dalam doa dan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Kembali kepada pembahasan Kemurnian Iman di atas. Ketika Tuhan memurnikan setiap umat-Nya, bacalah dan renungkan kembali setiap ayat yang dikupas di atas agar Firman Tuhan tersebut menjadi kehidupan yang tersemai kuat dalam seluruh perjalanan kehidupan proses pemurnian yang Allah Bapa ijinkan terjadi dalam kehidupan kekristenan. Karena, dalam proses tersebut, Tuhan senantiasa memperhatikan dan bahkan memegang kita, agar saat proses pemurnian berlangsung, bukan kebinasaan yang terjadi, melainkan kehidupan yang mulia yang mencerminkan nilai yang mahal, dimana nampak berkilauan keserupaan kita dengan Kristus Yesus Tuhan.

Proses pemurnian iman itu terjadi secara realita hidup kita melalui penderitaan. Masuk dalam dapur kesengsaraan. Agar hidup kita kudus dan tak bercacat dihadapan Allah Pengasih, Bapa yang Mulia dalam Kristus Yesus Tuhan. Sebuah proses seperti dalam lingkaran api. Jika mundur hancur dan binasa. Tetapi jika maju, maka ada kehidupan yang dicapai. Seperti kehidupan yang pernah dialami pengkotbah tersebut di masa proses hidupnya, dan terciptalah lagu yang diambil dari Yoel 2:1-3 demikian:

Ketika lorong berkabut kelam
Menghalangi cahaya lenteraku
Ketika onak duri ditebarkan
Merintangi kakiku berjejak

Tak kunjung kusurutkan langkah ini
Tak kunjung kusurutkan langkah ini
Laksana api yang bergelora
Ku pacu langkah ini

Tak kunjung kusurutkan langkah ini
Tak kunjung kusurutkan langkah ini
Mengejar kekasihku yang menanti hadirku penuh cinta
Di ujung kabut kelam

Proses demi proses pengkotbah lalui dengan menguatkan hatinya kepada penebusnya yang hidup. Kekasih jiwanya yang selalu menyertainya saat diijinkan-Nya berada dalam kekelaman atau pun dalam gelora api yang panas membara. Pengkotbah sadar bahwa proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupannya adalah untuk: (1) Menyingkirkan segala kekotoran dalam hatinya agar selalu kedapatan kudus dan tak bercacact cela, (2) Membuang segala kepercayaan pada diri sendiri (arogansi), (3) Menghancurkan kebanggaan diri terhadap keberhasilan demi keberhasilan yang dicapainya dalam pelayanannya dan juga (4) Mengubur segala hikmat dunia yang diandalkan (knowledge).

Dengan demikian, sang pengkotbah senantiasa: (1) Menaruhkan pengharapan yaitu fokus yang sepenuhnya kepada Allah yang Hidup yaitu kepada Yesus Kristus Tuhan, (2) Memiliki kerendahan hati yang mana selalu memiliki kemauan untuk belajar dan diajar, dan (3) Selalu bergantung pada Hikmat Tuhan (Yak. 3:17) yang murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Jika pembaca, orang-orang kudus Tuhan Yesus Kristus diberkati dengan bacaan di blogspot ini, dan memerlukan pelayanan doa atau konseling, pembaca bisa mengirimkan email untuk kondultasi ke: jj.jehovajireh@gmail.com 
Imanuel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kasih dan Kebenaran yang Sempurna