Iman Dalam Kebenaran
Salam sejahtera saudara saudari orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan.
Kembali penulis blogger menyapa saudara saudari sekalian dalam tema Iman Dalam Kebenaran.
Kalau sebelumnya, penulis membagikan tema Iman Sejati yang mengarah kepada proses awal memiliki Iman tersebut secara up-to-date atau progresifnya dan faedahnya.
Berbeda dengan tema saat ini yakni Iman Dalam Kebenaran. Penulis membagikan blogger ini untuk kita semua benar-benar memahami cara menerapkan Iman tersebut melalui seluruh kehidupan kita dengan benar sesuai Kebenaran Firman Tuhan. Sehingga berfaedah juga bagi kehidupan di masa depan untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. Bukan kebenaran logis kemanusiaan. Yang berujung arogansi dan salah sasaran. Sehingga mencelakai diri sendiri dan juga orang lain.
Sebagai dasar kebenarannya, penulis ambil dari tulisan yang diilhamkan Allah dalam Amsal 22:3 atau 27:12 mengenai tindakan Iman Dalam Kebenaran demikian: “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”
Kita tahu bahwa Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1).
Dari Firman Tuhan Ibrani 11:1 ini penjelasannya terbagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Artinya bahwa iman merupakan fondasi (dasar) untuk pengharapan akan segala sesuatu dalam kehidupan kita akan dapat tergenapi. Fondasi atau dasar iman itu adalah Firman Allah sendiri yang terkandung dalam satu nama yang berkuasa yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah Firman Allah Yang Hidup yang mana di dalam Dia terkandung keseluruhan janji Allah yang telah tergenapi dan akan berjalan sempurna ke depannya bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Ketika kita membangun iman kita dengan terus belajar Firman Tuhan untuk memahami Firman-Nya dalam konteks kebenaran Firman itu, maka iman kita akan tersusun teratur dan rapi di atas fondasi yang kita yakini sebagai kekuatan yang menopang bangunan iman kita diatasnya sampai menjadi sebuah bangunan iman yang kokoh dan yang sempurna. Tidak roboh, tidak retak dan tidak terhempas saat ada goncangan dan badai.
Tersusun – teratur – rapi bukan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau. Tersusun – teratur – rapi memberikan gambaran bahwa bangunan yang dibentuk adalah bangunan yang kokoh dan sempurna. Sedangkan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau memberikan gambaran bangunan yang dibentuk adalah bangunan yang rapuh dan tidak sempurna. Meskipun keduanya terbangun di atas iman yang sama yaitu Firman Tuhan yang adalah Tuhan Yesus Kristus Yang Hidup. Tetapi bentuk bangunannya memberikan kekuatan bangunan yang berbeda. Tentang tersusun – teratur – rapi dan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau, penulis tidak membawa pembaca untuk menilai dan menstigma. Karena tentang hal ini, Tuhan Yesus Kristus kita adalah Tuhan Allah Yang Mahamelihat, Mahabijak, Mahakasih, Mahakuasa, Mahatahu. Dia juga mengingatkan kita untuk Jangan Menghakimi!
Kembali kepada topik penulis tentang tema Iman Dalam Kebenaran.
Iman Dalam Kebenaran adalah suatu tindakan yang mencerminkan kehidupan setiap orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan itu diiringi dengan Hikmat Allah sendiri. Misalnya saja penulis memakai Surat 1 Yohanes 4:18 untuk disejajarkan dengan dampak epidemi pandemi corona-virus. Firman Kebenaran tersebut dituliskan sebagai berikut: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” Uraian penulis ini dituangkan dari pembicara-pembicara yang menyampaikan Firman Kebenaran tersebut, yang mengajak orang-orang Kudus-Nya yang mendengarkan saat itu untuk melangkah dengan penuh keberanian dalam menghadapi epidemi pandemi corona-virus19 (CoViD19) secara apa yang dia pahami untuk dia lakukan tanpa menggali dan menyelaraskannya dengan Amsal 22:3 dan 27:12 yang penulis jadikan dasar mengulas tema Iman Dalam Kebenaran ini.
Apa yang dilakukan oleh Musa dan Harun yang merupakan pemimpin besar saat itu?
Mereka mengajak Bangsa Israel untuk melakukan social distancing dan lockdown tersebut atau menjadikan saat itu sebagai saat yang tepat untuk pekabaran Injil? "Ayo-ayo, hai orang-orang Mesir, dengarlah dan ikutilah seruan yang diberikan ke kami agar anak-anak sulung kalian tidak tertimpa tulah dan mati. Tetapi agar mereka tetap hidup.!" Tidak ada dituliskan adanya pekabaran Injil bukan. Benar! Mereka taat meskipun hanya sebuah social distancing dan Lockdown sehari semalam. Bukan sebuah Lockdown seperti yang Tuhan lakukan terhadap Nuh dan keluarganya selama kurang lebih 375 hari. Hitungan penulis mengikuti hari-hari yang tertulis dalam Kejadian Nuh dan Air Bah.
Social Distancing dan Psycal Distancing merupakan HIMBAUAN untuk Jaga Jarak Dengan masyarakat Umum dan Jaga Jarak Sentuh disertai lockdown yang hanya beberapa Minggu disampaikan karena menghargai HAK bebas manusia. Memilih taat untuk hidup yang baik atau melanggar untuk kecelakaan diri dan yang dampaknya ke orang lain?
Kalau sebelumnya, penulis membagikan tema Iman Sejati yang mengarah kepada proses awal memiliki Iman tersebut secara up-to-date atau progresifnya dan faedahnya.
Berbeda dengan tema saat ini yakni Iman Dalam Kebenaran. Penulis membagikan blogger ini untuk kita semua benar-benar memahami cara menerapkan Iman tersebut melalui seluruh kehidupan kita dengan benar sesuai Kebenaran Firman Tuhan. Sehingga berfaedah juga bagi kehidupan di masa depan untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain. Bukan kebenaran logis kemanusiaan. Yang berujung arogansi dan salah sasaran. Sehingga mencelakai diri sendiri dan juga orang lain.
Sebagai dasar kebenarannya, penulis ambil dari tulisan yang diilhamkan Allah dalam Amsal 22:3 atau 27:12 mengenai tindakan Iman Dalam Kebenaran demikian: “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”
Kita tahu bahwa Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1).
Dari Firman Tuhan Ibrani 11:1 ini penjelasannya terbagi menjadi 2 bagian yaitu:
1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Artinya bahwa iman merupakan fondasi (dasar) untuk pengharapan akan segala sesuatu dalam kehidupan kita akan dapat tergenapi. Fondasi atau dasar iman itu adalah Firman Allah sendiri yang terkandung dalam satu nama yang berkuasa yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus adalah Firman Allah Yang Hidup yang mana di dalam Dia terkandung keseluruhan janji Allah yang telah tergenapi dan akan berjalan sempurna ke depannya bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Ketika kita membangun iman kita dengan terus belajar Firman Tuhan untuk memahami Firman-Nya dalam konteks kebenaran Firman itu, maka iman kita akan tersusun teratur dan rapi di atas fondasi yang kita yakini sebagai kekuatan yang menopang bangunan iman kita diatasnya sampai menjadi sebuah bangunan iman yang kokoh dan yang sempurna. Tidak roboh, tidak retak dan tidak terhempas saat ada goncangan dan badai.
Tersusun – teratur – rapi bukan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau. Tersusun – teratur – rapi memberikan gambaran bahwa bangunan yang dibentuk adalah bangunan yang kokoh dan sempurna. Sedangkan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau memberikan gambaran bangunan yang dibentuk adalah bangunan yang rapuh dan tidak sempurna. Meskipun keduanya terbangun di atas iman yang sama yaitu Firman Tuhan yang adalah Tuhan Yesus Kristus Yang Hidup. Tetapi bentuk bangunannya memberikan kekuatan bangunan yang berbeda. Tentang tersusun – teratur – rapi dan tersusun – tidak beraturan – berantakan atau kacau, penulis tidak membawa pembaca untuk menilai dan menstigma. Karena tentang hal ini, Tuhan Yesus Kristus kita adalah Tuhan Allah Yang Mahamelihat, Mahabijak, Mahakasih, Mahakuasa, Mahatahu. Dia juga mengingatkan kita untuk Jangan Menghakimi!
Penulis hanya akan memberi uraian seperti dibawah.
Seandainya bangunan iman kita mengalami keretakan, roboh dan atau terhempas lalu hancur, tetaplah kuatkan iman bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah yang menyertai, memperhatikan, menolong dan sanggup membuatnya kembali berdiri tegak dan menata kembali bangunan iman kita itu sampai menjadi bangunan kokoh yang sempurna. Seperti Dia – Yesus Kristus Tuhan adalah Allah yang sempurna. Karena Dia adalah Allah yang penuh belas Kasih dan panjang sabar untuk membuat orang-orang Kudus-Nya memahami bagaimana bangunan imannya bisa kokoh dan sempurna itu terbangun dengan benar. Yaitu dengan memahami konsep Tersusun - Teratur - Rapi. Bukan Tersusun - Tidak beraturan - Kacau atau Berantakan. Karena tujuan Allah adalah kebaikan umat-Nya dan sesama. Bukan kehancuran umat-Nya yang satu lalu berimbas kepada kehancuran umat-Nya yang lain.
Seandainya bangunan iman kita mengalami keretakan, roboh dan atau terhempas lalu hancur, tetaplah kuatkan iman bahwa Allah yang kita percayai adalah Allah yang menyertai, memperhatikan, menolong dan sanggup membuatnya kembali berdiri tegak dan menata kembali bangunan iman kita itu sampai menjadi bangunan kokoh yang sempurna. Seperti Dia – Yesus Kristus Tuhan adalah Allah yang sempurna. Karena Dia adalah Allah yang penuh belas Kasih dan panjang sabar untuk membuat orang-orang Kudus-Nya memahami bagaimana bangunan imannya bisa kokoh dan sempurna itu terbangun dengan benar. Yaitu dengan memahami konsep Tersusun - Teratur - Rapi. Bukan Tersusun - Tidak beraturan - Kacau atau Berantakan. Karena tujuan Allah adalah kebaikan umat-Nya dan sesama. Bukan kehancuran umat-Nya yang satu lalu berimbas kepada kehancuran umat-Nya yang lain.
Tapi kembali kepada yang namanya Pilihan Kehendak Bebas!.
Dia - Allah bukanlah manusia yang hanya mampu memperhatikan satu sisi bagian yang dapat dijangkau pandangannya. Dia bukanlah manusia yang sering dalam meyimpulkan suatu keadaan itu dengan memberi stigma dalam penghakimannya. Tetapi Dia – Tuhan Allah kita – Tuhan Yesus Kristus adalah Allah Yang Mahakuasa yang sanggup mengerjakan sesuatu yang teramat sangat sulit bagi manusia tetapi tidak bagi-Nya agar kehidupan manusia itu mengalami perubahan yang mulia bagi penyataan Kemuliaan-Nya sendiri. Dia Allah Mahamelihat keseluruhan denyut kehidupan manusia tanpa batasan. Dia Allah Mahabijaksana untuk memahami kejadian demi kejadian yang di alami manusia di dunia yang tergoncangkan ini. Dia Allah Mahakasih terhadap manusia yang berharap kepada kasih setia-Nya. Dia Allah Mahamemelihara kehidupan manusia yang kehidupannya mengalami hal yang tidak menguntungkan dalam situasi dan kondisi lingkungan hidupnya. Dia adalah Allah Yang Mahabijak yang dengan kebijaksanaan-Nya sanggup menginsafkan manusia dengan memberi pemahaman terjadinya kejatuhan dan kerusakan pada iman mereka. Semua Allah yang kerjakan. Dan manusia hanya dituntut untuk taat – tunduk – berbenah dan melakukan apa yang menjadi bagiannya sebagai manusia.
Karena itu, fondasi kita membangun keimanan kita bukanlah diperkatakan dan dilaksanakan dengan suatu nubuatan yang arogan. Bukan merupakan suatu tindakan menantang maut. Tapi tindakan ketaatan dalam penundukan pada otoritas tertinggi yaitu Allah Bapa yang membuat tindakan ketaatan tersebut adalah penyataan yang mengalahkan maut. Tindakan yang tertata dari atas fondasi yang benar yaitu Firman Allah – tersusun ke atas ke samping sampai terbentuk bangunan menyesuaikan tatanan di bawahnya sehingga terbangun secara rapi dan seimbang sampai terbentuk bangunan keimanan yang kokoh dan sempurna. Karena pergerakan Sang Fondasi yaitu Allah sendiri dalam Kristus Yesus Tuhan melalui Firman-Nya yang kita dengar, pelajari, renungkan dan lakukan bergerak dengan Kuasa Roh-Nya dalam keteraturan dan keseimbangan.
2. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Artinya bahwa ketika iman pengharapan kita didasarkan pada kebenaran Firman Allah dalam Kristus Yesus Tuhan, tidak serta merta dirancang dan dilakukan dalam suatu indakan yang arogan. Tetapi pada tindakan yang dirancangkan dalam sebuah ketaatan dan penundukan diri pada otoritas yang benar. Sehingga kita bisa melihat bukti dari penyataan iman tersebut adalah penyataan mengalahkan maut dan bukan menantang maut. Sebuah bukti yang sebelumnya tidak kita lihat demikian. Sebuah bukti yang inginnya dilihat sejak awal. Tetapi kenyataannya adalah sebuah bukti penyataan yang tidak dilihat di awal dan bahkan sampai saat ini. Suatu bukti penyataan yang telah menyatakan kebenarannya setelah adanya kebangkitan dan pengangkatan Tuhan Yesus Kristus ke sorga dimana yang akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia terangkat ke sorga untuk menjemput dan mengangkat Gereja-Nya – orang-orang Kudus-Nya. seperti yang tertulis dalam Kitab-Kitab Kebenaran yang dikanonisasikan ke dalam 66 Kitab di dalam Alkitab.
Yaitu BUKTI penyataan dalam penyertaan, perlindungan, pemeliharaan, penyelamatan, pertolongan, keamanan yang orang-orang kudus Kristus alami sepanjang perjalanan yang dilalui.
Penjelasan 2 (dua) hal iman di atas penulis tarik garis pada tindakan iman di saat seperti sekarang ini, dimana sedang maraknya epidemi atau pandemi atau apalah itu mengenai corona-virus (COVID-19).
Sebuah epidemi yang penulis berani dan yakini sebagai epidemi yang berubah dengan cepat menjadi pandemi karena penyebarannya di interfensi oleh iblis atas seijin Tuhan Yesus Kristus yang juga Pemegang kendali kegerakan interfensi iblis dalam wabah COVID19 tersebut. Iblis bergerak menyebar wabah penyakit sampar ini dengan spektakuler ke seluruh dunia karena iblis mendengar auman TUHAN Pencipta Langit dan Bumi. Dan iblis goncang. Iblis gemetar. Dia ketakutan. Dia berusaha melampiaskan ketakutannya dengan interfensi dalam penyebaran corona-virus yang adalah binatang yang merupakan penyataan bilangannya yaitu 666. Dan ini barulah salah satu bagian dari bagian-bagian yang menjadi tanda kedatangan Tuhan dan tanda nyata geliatnya iblis yang ketakutan. Ini barulah permulaan menjelang hari pengangkatan Gereja-Nya – orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan.
Jangan takut! Kejadian ini adalah sebuah peringatan dari Tuhan sendiri untuk manusia terutama orang-orang Kudus-Nya memiliki pemahaman bahwa seperti itulah geliat iblis dalam ketakutannya. Dia ingin membawa seluruh bangsa ke tempat dia berada. Jangan takut! Kejadian ini adalah pesan dari Tuhan sendiri untuk manusia terutama untuk orang-orang Kudus-Nya. Bahwa manusia yang percaya kepada Allah Pencipta Langit dan Bumi yang Nama-Nya diberikan di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, mereka ada dalam perlindungan-Nya dan membentengi mereka dengan meterai Darah-Nya. Mereka yang menindaki imannya dalam penundukan dan ketaatan yang mendatangkan hidup dan bukan menantang maut dan mengalami kematian. Meski ada yang mati karena Covid19, mereka ada di sorga di tempat dimana Allah dalam Kristus Yesus Tuhan bertahta dan menyediakan tempat bagi mereka yang hidupnya tak bercacat cela, yaitu hidup melakukan Kebenaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dalam Kekudusan - Hidup dalam Ketaatan - Hidup dalam kesetiaan - Hidup dalam Kebenaran-Nya.
Dia - Allah bukanlah manusia yang hanya mampu memperhatikan satu sisi bagian yang dapat dijangkau pandangannya. Dia bukanlah manusia yang sering dalam meyimpulkan suatu keadaan itu dengan memberi stigma dalam penghakimannya. Tetapi Dia – Tuhan Allah kita – Tuhan Yesus Kristus adalah Allah Yang Mahakuasa yang sanggup mengerjakan sesuatu yang teramat sangat sulit bagi manusia tetapi tidak bagi-Nya agar kehidupan manusia itu mengalami perubahan yang mulia bagi penyataan Kemuliaan-Nya sendiri. Dia Allah Mahamelihat keseluruhan denyut kehidupan manusia tanpa batasan. Dia Allah Mahabijaksana untuk memahami kejadian demi kejadian yang di alami manusia di dunia yang tergoncangkan ini. Dia Allah Mahakasih terhadap manusia yang berharap kepada kasih setia-Nya. Dia Allah Mahamemelihara kehidupan manusia yang kehidupannya mengalami hal yang tidak menguntungkan dalam situasi dan kondisi lingkungan hidupnya. Dia adalah Allah Yang Mahabijak yang dengan kebijaksanaan-Nya sanggup menginsafkan manusia dengan memberi pemahaman terjadinya kejatuhan dan kerusakan pada iman mereka. Semua Allah yang kerjakan. Dan manusia hanya dituntut untuk taat – tunduk – berbenah dan melakukan apa yang menjadi bagiannya sebagai manusia.
Karena itu, fondasi kita membangun keimanan kita bukanlah diperkatakan dan dilaksanakan dengan suatu nubuatan yang arogan. Bukan merupakan suatu tindakan menantang maut. Tapi tindakan ketaatan dalam penundukan pada otoritas tertinggi yaitu Allah Bapa yang membuat tindakan ketaatan tersebut adalah penyataan yang mengalahkan maut. Tindakan yang tertata dari atas fondasi yang benar yaitu Firman Allah – tersusun ke atas ke samping sampai terbentuk bangunan menyesuaikan tatanan di bawahnya sehingga terbangun secara rapi dan seimbang sampai terbentuk bangunan keimanan yang kokoh dan sempurna. Karena pergerakan Sang Fondasi yaitu Allah sendiri dalam Kristus Yesus Tuhan melalui Firman-Nya yang kita dengar, pelajari, renungkan dan lakukan bergerak dengan Kuasa Roh-Nya dalam keteraturan dan keseimbangan.
2. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Artinya bahwa ketika iman pengharapan kita didasarkan pada kebenaran Firman Allah dalam Kristus Yesus Tuhan, tidak serta merta dirancang dan dilakukan dalam suatu indakan yang arogan. Tetapi pada tindakan yang dirancangkan dalam sebuah ketaatan dan penundukan diri pada otoritas yang benar. Sehingga kita bisa melihat bukti dari penyataan iman tersebut adalah penyataan mengalahkan maut dan bukan menantang maut. Sebuah bukti yang sebelumnya tidak kita lihat demikian. Sebuah bukti yang inginnya dilihat sejak awal. Tetapi kenyataannya adalah sebuah bukti penyataan yang tidak dilihat di awal dan bahkan sampai saat ini. Suatu bukti penyataan yang telah menyatakan kebenarannya setelah adanya kebangkitan dan pengangkatan Tuhan Yesus Kristus ke sorga dimana yang akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia terangkat ke sorga untuk menjemput dan mengangkat Gereja-Nya – orang-orang Kudus-Nya. seperti yang tertulis dalam Kitab-Kitab Kebenaran yang dikanonisasikan ke dalam 66 Kitab di dalam Alkitab.
Yaitu BUKTI penyataan dalam penyertaan, perlindungan, pemeliharaan, penyelamatan, pertolongan, keamanan yang orang-orang kudus Kristus alami sepanjang perjalanan yang dilalui.
Penjelasan 2 (dua) hal iman di atas penulis tarik garis pada tindakan iman di saat seperti sekarang ini, dimana sedang maraknya epidemi atau pandemi atau apalah itu mengenai corona-virus (COVID-19).
Sebuah epidemi yang penulis berani dan yakini sebagai epidemi yang berubah dengan cepat menjadi pandemi karena penyebarannya di interfensi oleh iblis atas seijin Tuhan Yesus Kristus yang juga Pemegang kendali kegerakan interfensi iblis dalam wabah COVID19 tersebut. Iblis bergerak menyebar wabah penyakit sampar ini dengan spektakuler ke seluruh dunia karena iblis mendengar auman TUHAN Pencipta Langit dan Bumi. Dan iblis goncang. Iblis gemetar. Dia ketakutan. Dia berusaha melampiaskan ketakutannya dengan interfensi dalam penyebaran corona-virus yang adalah binatang yang merupakan penyataan bilangannya yaitu 666. Dan ini barulah salah satu bagian dari bagian-bagian yang menjadi tanda kedatangan Tuhan dan tanda nyata geliatnya iblis yang ketakutan. Ini barulah permulaan menjelang hari pengangkatan Gereja-Nya – orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan.
Jangan takut! Kejadian ini adalah sebuah peringatan dari Tuhan sendiri untuk manusia terutama orang-orang Kudus-Nya memiliki pemahaman bahwa seperti itulah geliat iblis dalam ketakutannya. Dia ingin membawa seluruh bangsa ke tempat dia berada. Jangan takut! Kejadian ini adalah pesan dari Tuhan sendiri untuk manusia terutama untuk orang-orang Kudus-Nya. Bahwa manusia yang percaya kepada Allah Pencipta Langit dan Bumi yang Nama-Nya diberikan di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, mereka ada dalam perlindungan-Nya dan membentengi mereka dengan meterai Darah-Nya. Mereka yang menindaki imannya dalam penundukan dan ketaatan yang mendatangkan hidup dan bukan menantang maut dan mengalami kematian. Meski ada yang mati karena Covid19, mereka ada di sorga di tempat dimana Allah dalam Kristus Yesus Tuhan bertahta dan menyediakan tempat bagi mereka yang hidupnya tak bercacat cela, yaitu hidup melakukan Kebenaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dalam Kekudusan - Hidup dalam Ketaatan - Hidup dalam kesetiaan - Hidup dalam Kebenaran-Nya.
Ingat Masa Penampian! Bukan satu dua kali! Tapi di tampi sampai Tuhan datang di awan menjemput mempelai-Nya yaitu gereja-Nya - orang-orang Kudus-Nya. Pastikan di setiap nafas, di setiap detak jantung, di setiap denyut nadi, di setiap langkah, Firman Tuhan menjadi hikmat nyanyian hati - nyanyian roh - nyanyian jiwa dan Roh Kudus berdaulat penuh dan selalu bertahta di Bait Suci-Nya!
Jika bicara untung rugi, maka Gadis Bodoh dan Gadis Bijaksana adalah jawabannya.
Kembali kepada tindakan Iman Dalam Kebenaran. Tindakan para orang-orang kudus Tuhan Yesus Kristus di China merupakan tindakan iman martir, penulis setujui hal tersebut. Mereka tidak sedang bertindak dengan iman untuk menantang maut. Tetapi menjadikan kondisi epidemi - pandemi corona-virus ini sebagai sebuah kesempatan bertindak dalam Iman Dalam Kebenaran Pekabaran Injil untuk Nama Tuhan Yesus di dengar dan bahkan di terima mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat dan beroleh Hidup Damai Kekal selamanya. Karena pekabaran Injil di China tidaklah seperti yang masih bisa dilakukan di Indonesia. Peribadatannya pun tidak seperti di Indonesia.
Karena itu, epidemi corona-virus yang dibuat oleh para ahli kimia di sana dan yang dikatakan “mengalami kebocoran” pada Laboratoriumnya, dijadikan kesempatan oleh orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di sana untuk bertindak secara Iman Dalam Kebenaran Pekabaran Injil tentang Keselamatan dan Kehidupan Kekal yang hanya ada dalam Kristus Yesus Tuhan semata. Dan penulis sekali lagi setujui. Konteks pekabaran Injil yang mereka lakukan adalah konteks iman – jika mati maka kematian mereka adalah keuntungan mereka menjadi martir bagi Kristus Yesus Tuhan dan jika mereka hidup, kehidupan mereka adalah kesaksian bahwa mereka ada dalam Kristus Yesus Tuhan dan Tuhan Yesus Kristus ada di dalam mereka. Dan bahwa kuasa imun mereka adalah iman kepada penyataan Tuhan bahwa Meterai Darah Kristus Yesus Tuhan adalah meterai yang mampu menolak segala varian binatang iblis yang dalam kondisi saat ini variannya adalah corona-virus. Meterai Darah Kristus Yesus mampu menolak racun virus corona dari tubuh mereka sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di sana. Tindakan martir pada kesempatan ini adalah tindakan Iman mereka yang sejalan dengan surat Paulus kepada jemaat di Filipi 1:21 – Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Kembali kepada tindakan Iman Dalam Kebenaran. Tindakan para orang-orang kudus Tuhan Yesus Kristus di China merupakan tindakan iman martir, penulis setujui hal tersebut. Mereka tidak sedang bertindak dengan iman untuk menantang maut. Tetapi menjadikan kondisi epidemi - pandemi corona-virus ini sebagai sebuah kesempatan bertindak dalam Iman Dalam Kebenaran Pekabaran Injil untuk Nama Tuhan Yesus di dengar dan bahkan di terima mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat dan beroleh Hidup Damai Kekal selamanya. Karena pekabaran Injil di China tidaklah seperti yang masih bisa dilakukan di Indonesia. Peribadatannya pun tidak seperti di Indonesia.
Karena itu, epidemi corona-virus yang dibuat oleh para ahli kimia di sana dan yang dikatakan “mengalami kebocoran” pada Laboratoriumnya, dijadikan kesempatan oleh orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di sana untuk bertindak secara Iman Dalam Kebenaran Pekabaran Injil tentang Keselamatan dan Kehidupan Kekal yang hanya ada dalam Kristus Yesus Tuhan semata. Dan penulis sekali lagi setujui. Konteks pekabaran Injil yang mereka lakukan adalah konteks iman – jika mati maka kematian mereka adalah keuntungan mereka menjadi martir bagi Kristus Yesus Tuhan dan jika mereka hidup, kehidupan mereka adalah kesaksian bahwa mereka ada dalam Kristus Yesus Tuhan dan Tuhan Yesus Kristus ada di dalam mereka. Dan bahwa kuasa imun mereka adalah iman kepada penyataan Tuhan bahwa Meterai Darah Kristus Yesus Tuhan adalah meterai yang mampu menolak segala varian binatang iblis yang dalam kondisi saat ini variannya adalah corona-virus. Meterai Darah Kristus Yesus mampu menolak racun virus corona dari tubuh mereka sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di sana. Tindakan martir pada kesempatan ini adalah tindakan Iman mereka yang sejalan dengan surat Paulus kepada jemaat di Filipi 1:21 – Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Dan dalam pada itu mereka tetap taat mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan di sana.
Lalu, apakah tindakan demikian bisa diberlakukan di Indonesia. Orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di Negara ini adalah orang-orang yang beroleh anugerah Tuhan Yesus Kristus dengan keberadaan yang tidak sama dengan China atau Arab Saudi.
Sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan, sudah semestinya memiliki Hikmat-Nya. Adalah lebih bijak orang yang menghitung bilangan virus tersebut dibandingkan dengan orang yang berdiri di mimbar atau yang berbicara menyampaikan Kebenaran Firman Tuhan tanpa Hikmat. Karena orang yang menghitung bilangan virus itu melakukannya dalam kebenaran. Tapi yang menyuarakan Firman Kebenaran, belum tentu benar-benar sesuai konteksnya dengan Firman Kebenaran itu.
Orang yang menghitung bilangan virus tersebut menemukan jumlah bilangan binatang yang menuju kepada bilangan manusia yang adalah musuh kebenaran yakni 666 (Why 1318). Jumlah bilangan virus tersebut barulah permulaan dari salah satu tanda-tanda yang menyertai kenyataan kebenaran akan datangnya anti-Kristus yang akan menyatakan dirinya setelah Kristus Yesus Tuhan datang dan mengangkat orang-orang Kudus-Nya. Dia - Yesus Kristus Tuhan yang dikatakan dalam Firman Kebenaran akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia terangkat ke sorga (Kis. 1:9-11).
Tentang mereka yang menyampaikan Firman Kebenaran belum tentu sejalan dengan kebenaran itu sendiri. Artinya bahwa ada yang disampaikan dengan cara memasukkan ide sendiri ke dalam Firman Tuhan yang akan di kotbahkan dan memberi arti lain dari yang sebenarnya atau menafsirkan dengan tafsiran sendiri. Mungkin bisa saja menafsirkan dengan tafsiran sendiri dengan konteks jangan berani mengajak untuk mendukung tafsiran itu. Penyampaian ini harus disampaikan dengan ungkapan: “Ini kata adalah kata saya yang saya simpulkan atau saya jadikan contoh dari penafsiran saya secara pribadi dan bukan berdasarkan kebenaran Firman.”
Akan tetapi, dari yang dilihat dan di dengar, mereka tidak melakukan hal itu. Dan orang yang demikian secara arogan telah menyampaikan Firman Kebenaran untuk kemuliaannya dan bukan untuk kemuliaan Tuhan sang pemilik Kebenaran.
Penulis menulis demikian karena telah didengar secara langsung bukan satu atau dua orang yang menyampaikan Firman Kebenaran tersebut dengan cara memberi ide dan arti yang lain. Dalam menyampaikan Firman Kebenaran dengan tema NEED dengan pengaplikasian iman di situasi epidemi pandemi corona-virus ini, sangat perlu menyampaikannya dengan dasar-dasar kebenaran Firman Kebenaran yang telah dikanonisasi. Jauhkan eksegesa dan alegoris. Bahkan buang saja.
Dan jikalau mau menyampaikan dengan cara menguraikan untuk menjelaskan maksud dan tujuan firman itu, sampaikanlah sesuai konteks dalam 1 pasal atau 1 ayat. Lakukanlah dengan terfokus pada 1 pasal dan atau 1 ayat tersebut! Dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Ekspositori.
Kalau mau menyampaikan dengan cara mengadakan penyelidikan terlebih dahulu untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya tentang 1 pasal atau 1 ayat agar dengan penyelidikan itu dapat disampaikan hasil kebenarannya dengan dukungan Firman Tuhan dari ayat-ayat pendukung. Yang dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Tekstual atau Analitis.
Kalau mau menyampaikan dengan cara menjadikan seseorang dalam Firman Kebenaran tersebut sebagai sebuah contoh langkah yang benar atau tidak benar. Sampaikanlah dengan konteks yang digambarkan dalam 1 pasal atau 1 ayat! Dan dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Biografi.
Kalau mau menyampaikan dengan cara menunjukkan kekhasan dari yang tertulis pada Firman Kebenaran yang disampaikan, sampaikanlah sesuai konteks kebenaran yang menjadi kekhasannya dengan sedapat mungkin ada dukungan ayat-ayat pendukungnya. yang mana dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Tipikal.
Dalam kesemua cara yang ingin dipakai dalam menyampaikan Firman Kebenaran, sampaikanlah secara seimbang. Karena segala tulisan yang diilhamkan Allah itu telah dikanonisasi dengan keseimbangan yang sempurna dalam pimpinan Kuasa Roh Kristus Yesus Tuhan. Firman Tuhan itu tidaklah berat sebelah. Jika mengajar hanya mengajar saja. Jika menegur hanya menegur saja. Tidak! Firman Tuhan adalah merupakan tulisan-tulisan yang diilhamkan Allah tanpa salah dalam bahasa aslinya dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16).
Jadi, Firman Kebenaran itu tidak hanya menekankan Kasih Allah yang begitu besar (dalam Teologia Kekristenan disebut Calvinisme) atau Keadilan dan Kedisiplinan Allah yang tidak memihak itu tidak diterapkan secara berat sebelah (dalam Teologia Kekristenan disebut Armenian) . Tetapi, Kasih dan Keadilan Allah itu seirama, seimbang dan sempurna (dalam Teologia Kekristenan disebut Teologia Keseimbangan yang dicetuskan oleh Alm. Bp. Chris Marantika).
Lalu, apakah tindakan demikian bisa diberlakukan di Indonesia. Orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan di Negara ini adalah orang-orang yang beroleh anugerah Tuhan Yesus Kristus dengan keberadaan yang tidak sama dengan China atau Arab Saudi.
Sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan, sudah semestinya memiliki Hikmat-Nya. Adalah lebih bijak orang yang menghitung bilangan virus tersebut dibandingkan dengan orang yang berdiri di mimbar atau yang berbicara menyampaikan Kebenaran Firman Tuhan tanpa Hikmat. Karena orang yang menghitung bilangan virus itu melakukannya dalam kebenaran. Tapi yang menyuarakan Firman Kebenaran, belum tentu benar-benar sesuai konteksnya dengan Firman Kebenaran itu.
Orang yang menghitung bilangan virus tersebut menemukan jumlah bilangan binatang yang menuju kepada bilangan manusia yang adalah musuh kebenaran yakni 666 (Why 1318). Jumlah bilangan virus tersebut barulah permulaan dari salah satu tanda-tanda yang menyertai kenyataan kebenaran akan datangnya anti-Kristus yang akan menyatakan dirinya setelah Kristus Yesus Tuhan datang dan mengangkat orang-orang Kudus-Nya. Dia - Yesus Kristus Tuhan yang dikatakan dalam Firman Kebenaran akan datang kembali dengan cara yang sama seperti saat Dia terangkat ke sorga (Kis. 1:9-11).
Tentang mereka yang menyampaikan Firman Kebenaran belum tentu sejalan dengan kebenaran itu sendiri. Artinya bahwa ada yang disampaikan dengan cara memasukkan ide sendiri ke dalam Firman Tuhan yang akan di kotbahkan dan memberi arti lain dari yang sebenarnya atau menafsirkan dengan tafsiran sendiri. Mungkin bisa saja menafsirkan dengan tafsiran sendiri dengan konteks jangan berani mengajak untuk mendukung tafsiran itu. Penyampaian ini harus disampaikan dengan ungkapan: “Ini kata adalah kata saya yang saya simpulkan atau saya jadikan contoh dari penafsiran saya secara pribadi dan bukan berdasarkan kebenaran Firman.”
Akan tetapi, dari yang dilihat dan di dengar, mereka tidak melakukan hal itu. Dan orang yang demikian secara arogan telah menyampaikan Firman Kebenaran untuk kemuliaannya dan bukan untuk kemuliaan Tuhan sang pemilik Kebenaran.
Penulis menulis demikian karena telah didengar secara langsung bukan satu atau dua orang yang menyampaikan Firman Kebenaran tersebut dengan cara memberi ide dan arti yang lain. Dalam menyampaikan Firman Kebenaran dengan tema NEED dengan pengaplikasian iman di situasi epidemi pandemi corona-virus ini, sangat perlu menyampaikannya dengan dasar-dasar kebenaran Firman Kebenaran yang telah dikanonisasi. Jauhkan eksegesa dan alegoris. Bahkan buang saja.
Dan jikalau mau menyampaikan dengan cara menguraikan untuk menjelaskan maksud dan tujuan firman itu, sampaikanlah sesuai konteks dalam 1 pasal atau 1 ayat. Lakukanlah dengan terfokus pada 1 pasal dan atau 1 ayat tersebut! Dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Ekspositori.
Kalau mau menyampaikan dengan cara mengadakan penyelidikan terlebih dahulu untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya tentang 1 pasal atau 1 ayat agar dengan penyelidikan itu dapat disampaikan hasil kebenarannya dengan dukungan Firman Tuhan dari ayat-ayat pendukung. Yang dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Tekstual atau Analitis.
Kalau mau menyampaikan dengan cara menjadikan seseorang dalam Firman Kebenaran tersebut sebagai sebuah contoh langkah yang benar atau tidak benar. Sampaikanlah dengan konteks yang digambarkan dalam 1 pasal atau 1 ayat! Dan dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Biografi.
Kalau mau menyampaikan dengan cara menunjukkan kekhasan dari yang tertulis pada Firman Kebenaran yang disampaikan, sampaikanlah sesuai konteks kebenaran yang menjadi kekhasannya dengan sedapat mungkin ada dukungan ayat-ayat pendukungnya. yang mana dalam Teologia Kekristenan disebut Kotbah Tipikal.
Dalam kesemua cara yang ingin dipakai dalam menyampaikan Firman Kebenaran, sampaikanlah secara seimbang. Karena segala tulisan yang diilhamkan Allah itu telah dikanonisasi dengan keseimbangan yang sempurna dalam pimpinan Kuasa Roh Kristus Yesus Tuhan. Firman Tuhan itu tidaklah berat sebelah. Jika mengajar hanya mengajar saja. Jika menegur hanya menegur saja. Tidak! Firman Tuhan adalah merupakan tulisan-tulisan yang diilhamkan Allah tanpa salah dalam bahasa aslinya dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16).
Jadi, Firman Kebenaran itu tidak hanya menekankan Kasih Allah yang begitu besar (dalam Teologia Kekristenan disebut Calvinisme) atau Keadilan dan Kedisiplinan Allah yang tidak memihak itu tidak diterapkan secara berat sebelah (dalam Teologia Kekristenan disebut Armenian) . Tetapi, Kasih dan Keadilan Allah itu seirama, seimbang dan sempurna (dalam Teologia Kekristenan disebut Teologia Keseimbangan yang dicetuskan oleh Alm. Bp. Chris Marantika).
Kembali kepada topik penulis tentang tema Iman Dalam Kebenaran.
Iman Dalam Kebenaran adalah suatu tindakan yang mencerminkan kehidupan setiap orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan itu diiringi dengan Hikmat Allah sendiri. Misalnya saja penulis memakai Surat 1 Yohanes 4:18 untuk disejajarkan dengan dampak epidemi pandemi corona-virus. Firman Kebenaran tersebut dituliskan sebagai berikut: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” Uraian penulis ini dituangkan dari pembicara-pembicara yang menyampaikan Firman Kebenaran tersebut, yang mengajak orang-orang Kudus-Nya yang mendengarkan saat itu untuk melangkah dengan penuh keberanian dalam menghadapi epidemi pandemi corona-virus19 (CoViD19) secara apa yang dia pahami untuk dia lakukan tanpa menggali dan menyelaraskannya dengan Amsal 22:3 dan 27:12 yang penulis jadikan dasar mengulas tema Iman Dalam Kebenaran ini.
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:18 ini jika diperhatikan secara seksama disampaikan dengan niat hati yang memaksakan kehendak si pembicara dan tersimpul tekhnik intimidasi dengan menghakimi setiap pendengar jika tidak melakukan ayat tersebut di masa Covid19 ini. Tidak terkandung seruan penting untuk berwaspada - berdoa mencari wajah Tuhan menanyakan Kehendak-Nya - bergerak dalam Iman-Pengharapan-Kasih yang benar dalam Ketaatan kepada Hikmat Allah.
Bertindak dengan penuh keberanian sangat penulis setujui. Bertindak berani ditambah kebijaksanaan, itu lebih besar lagi manfaatnya dimana Tuhan berkenan dan dimuliakan di dalamnya. Dengan hal ini, penulis sangat amat setuju. Keberanian ditambah Kebijaksanaan yang mengandung Ketaatan sama dengan Kehidupan.
Dengan tulisan yang diilhamkan Allah tersebut (1 Yoh. 4:18), pembicara itu mengingatkan bahwa seseorang yang sampai tidak berani bersalaman atau bersentuhan dengan orang lain dikategorikan sebagai orang yang telah terinfeksi ketakutan. Apakah itu benar? Belum tentu. Apakah perlu di setujui? Penulis Tidak Setuju! Perhatikan dan bandingkan tindakan Iman Dalam Kebenaran Amsal 22:3 dan 27:12 - Ada orang yang berbuat demikian karena hendak berjaga-jaga. Berwaspada terhadap kondisi sendiri dan kondisi orang lain. Dalam kehidupan di zaman sekarang ini, memang sungguh-sungguh harus memahami konteks kehidupan dan kebenaran Firman itu dengan Hikmat Allah. Siapa yang bisa memahami dengan menyelami pemikiran Dia yang Mahakuasa dan Mahabijak itu? Sekiranya mengenal Dia sebagai Allah yang empunya hikmat dan yang bergerak dengan keteraturan, maka tindakan berjaga-jaga bukanlah merupakan suatu ketakutan. Orang berjaga-jaga memiliki waktu untuk berdoa mencari wajah Tuhan dan menanyakan Kehendak-Nya.
Bertindak dengan penuh keberanian sangat penulis setujui. Bertindak berani ditambah kebijaksanaan, itu lebih besar lagi manfaatnya dimana Tuhan berkenan dan dimuliakan di dalamnya. Dengan hal ini, penulis sangat amat setuju. Keberanian ditambah Kebijaksanaan yang mengandung Ketaatan sama dengan Kehidupan.
Dengan tulisan yang diilhamkan Allah tersebut (1 Yoh. 4:18), pembicara itu mengingatkan bahwa seseorang yang sampai tidak berani bersalaman atau bersentuhan dengan orang lain dikategorikan sebagai orang yang telah terinfeksi ketakutan. Apakah itu benar? Belum tentu. Apakah perlu di setujui? Penulis Tidak Setuju! Perhatikan dan bandingkan tindakan Iman Dalam Kebenaran Amsal 22:3 dan 27:12 - Ada orang yang berbuat demikian karena hendak berjaga-jaga. Berwaspada terhadap kondisi sendiri dan kondisi orang lain. Dalam kehidupan di zaman sekarang ini, memang sungguh-sungguh harus memahami konteks kehidupan dan kebenaran Firman itu dengan Hikmat Allah. Siapa yang bisa memahami dengan menyelami pemikiran Dia yang Mahakuasa dan Mahabijak itu? Sekiranya mengenal Dia sebagai Allah yang empunya hikmat dan yang bergerak dengan keteraturan, maka tindakan berjaga-jaga bukanlah merupakan suatu ketakutan. Orang berjaga-jaga memiliki waktu untuk berdoa mencari wajah Tuhan dan menanyakan Kehendak-Nya.
Orang yang menerapkan Firman Tuhan dalam Amsal 22:3 dan atau Amsal 27:12 adalah orang yang tahu memberi yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain dan melakukan yang terbenar untuk Kemuliaan Tuhan dan Nama-Nya ditinggikan.
Seseorang yang ketakutan adalah seseorang yang tindakannya itu sampai melewati batas berjaga-jaga. Misalnya, dia membeli sembako dan bahan-bahan yang mengandung antiseptik secara berlebihan untuk di stok karena ketakutan kehabisan dan tidak bisa mengolesi badannya dengan antiseptik dan ketakutan kelaparan karena pemerintah tidak lagi mengimpor bahan pangan. Atau suatu saat kalau dia perlu dana untuk mendapatkan bahan utama, dia bisa menjual beberapa stoknya dengan harga 100 kali lipat. Dia mempertahankan hidupnya dalam ketakutan tetapi ada kejahatan di hatinya dengan bertindak serakah. Bukan saja demikian, dia akan hidup dalam skeptisisme. Hidup yang penuh dengan kecurigaan. Yang seperti inilah yang tidak hidup dalam kasih yang sempurna. Kehidupan orang yang ketakutan itu adalah kehidupan paranoid plus. Plus skeptisisme. Plus serakahisme.
Sedikit mengulas Paranoid dan Fobia. Paranoid adalah ketakutan yang timbul akibat perasaan kengerian yang baru terjadi dan dilihat dan menimbulkan tindakan ketakutan bahwa kejadian itu tidak pasti berakhir dan bahkan bisa mendampaki dirinya. Sedangkan fobia adalah ketakutan karena kejadian di masa lalu yang dia lihat atau yang dia alami sendiri. Paranoid adalah ketakutan yang timbul saat ini. Sedangkan Fobia adalah ketakutan yang timbul setelah mengalami kengerian saat lalu. Seorang Fobia adalah seorang yang sebelumnya tidak memiliki ketakutan dan akhirnya memiliki ketakutan setelah ada kejadian yang menakutkan menimpanya. Dan ketika hal yang menakutkan di dengar, maka dia sudah ketakutan. Hanya baru dengar tapi ketakutannya sudah melewati kewajaran karena sudah pernah mengalami. Ketakutan ini bersumber dari syndrome traumatic. Sedangkan seorang Paranoid adalah seseorang yang ketakutan saat dia tidak pernah mengalami kejadian yang menakutkan itu secara langsung. Dia ketakutan saat orang lain mengalami kejadian yang menakutkan. Padahal bukan dia yang mengalami. Inilah yang disebut Paranoid. Jadi paranoid baru melihat saja sudah ketakutan. Ketakutan ini bersumber karena syndrome skepticism.
Ini contoh 2 pemberita dari pemberita Firman Tuhan yang penulis bahas di atas yang penulis tidak setuju dengan statmen-statmennya. Penulis tidak akan menjadikan sumber pemberita Firman tersebut sebagai seseorang yang harus dipublikasikan. Tetapi penulis akan memakai inisial pelaku pemberita Firman tersebut untuk menyamarkan identitas pemberita. Inisial mereka adalah AH dan AW.
Jadi, jika AH dan AW menggunakan Firman Kebenaran 1 Yohanes 4:18 mengenai Kasih dan Ketakutan di atas untuk menyimpulkan dengan kata lain menghakimi seseorang yang berjaga-jaga atau berwaspada itu adalah tindakan ketakutan. Dan atau mengajak orang-orang untuk hidup dengan penuh keberanian dengan menggunakan Firman Kebenaran dalam Markus 16:17-18 untuk beroleh persetujuan pendengar dan mengikuti ajakannya – sangatlah kurang berhikmat. Mereka tidak menyelaraskan konteks dengan situasi kondisi tempat kejadian yang membutuhkan Keberanian dengan Kebijaksanaan yang mengandung Ketaatan untuk menghasilkan Kehidupan.
Seseorang yang ketakutan adalah seseorang yang tindakannya itu sampai melewati batas berjaga-jaga. Misalnya, dia membeli sembako dan bahan-bahan yang mengandung antiseptik secara berlebihan untuk di stok karena ketakutan kehabisan dan tidak bisa mengolesi badannya dengan antiseptik dan ketakutan kelaparan karena pemerintah tidak lagi mengimpor bahan pangan. Atau suatu saat kalau dia perlu dana untuk mendapatkan bahan utama, dia bisa menjual beberapa stoknya dengan harga 100 kali lipat. Dia mempertahankan hidupnya dalam ketakutan tetapi ada kejahatan di hatinya dengan bertindak serakah. Bukan saja demikian, dia akan hidup dalam skeptisisme. Hidup yang penuh dengan kecurigaan. Yang seperti inilah yang tidak hidup dalam kasih yang sempurna. Kehidupan orang yang ketakutan itu adalah kehidupan paranoid plus. Plus skeptisisme. Plus serakahisme.
Sedikit mengulas Paranoid dan Fobia. Paranoid adalah ketakutan yang timbul akibat perasaan kengerian yang baru terjadi dan dilihat dan menimbulkan tindakan ketakutan bahwa kejadian itu tidak pasti berakhir dan bahkan bisa mendampaki dirinya. Sedangkan fobia adalah ketakutan karena kejadian di masa lalu yang dia lihat atau yang dia alami sendiri. Paranoid adalah ketakutan yang timbul saat ini. Sedangkan Fobia adalah ketakutan yang timbul setelah mengalami kengerian saat lalu. Seorang Fobia adalah seorang yang sebelumnya tidak memiliki ketakutan dan akhirnya memiliki ketakutan setelah ada kejadian yang menakutkan menimpanya. Dan ketika hal yang menakutkan di dengar, maka dia sudah ketakutan. Hanya baru dengar tapi ketakutannya sudah melewati kewajaran karena sudah pernah mengalami. Ketakutan ini bersumber dari syndrome traumatic. Sedangkan seorang Paranoid adalah seseorang yang ketakutan saat dia tidak pernah mengalami kejadian yang menakutkan itu secara langsung. Dia ketakutan saat orang lain mengalami kejadian yang menakutkan. Padahal bukan dia yang mengalami. Inilah yang disebut Paranoid. Jadi paranoid baru melihat saja sudah ketakutan. Ketakutan ini bersumber karena syndrome skepticism.
Ini contoh 2 pemberita dari pemberita Firman Tuhan yang penulis bahas di atas yang penulis tidak setuju dengan statmen-statmennya. Penulis tidak akan menjadikan sumber pemberita Firman tersebut sebagai seseorang yang harus dipublikasikan. Tetapi penulis akan memakai inisial pelaku pemberita Firman tersebut untuk menyamarkan identitas pemberita. Inisial mereka adalah AH dan AW.
Jadi, jika AH dan AW menggunakan Firman Kebenaran 1 Yohanes 4:18 mengenai Kasih dan Ketakutan di atas untuk menyimpulkan dengan kata lain menghakimi seseorang yang berjaga-jaga atau berwaspada itu adalah tindakan ketakutan. Dan atau mengajak orang-orang untuk hidup dengan penuh keberanian dengan menggunakan Firman Kebenaran dalam Markus 16:17-18 untuk beroleh persetujuan pendengar dan mengikuti ajakannya – sangatlah kurang berhikmat. Mereka tidak menyelaraskan konteks dengan situasi kondisi tempat kejadian yang membutuhkan Keberanian dengan Kebijaksanaan yang mengandung Ketaatan untuk menghasilkan Kehidupan.
Kedua pembicara tersebut sama sekali tidak menyerukan seruan ajakan berdoa mencari wajah Tuhan dan menanyakan Kehendak-Nya. Seruan mereka adalah bergerak melangkah tanpa doa tanpa perlu mencari wajah Tuhan dan menanyakan Kehendak-Nya.
Adakah tindakan yang tidak menyelaraskan dengan Kebijaksanaan yang mengandung Ketaatan tersebut atas dorongan Roh Kudus atau tindakan manusiawi karena arogansi? Jika merupakan dorongan Roh Allah, maka Dialah yang akan bertanggung jawab untuk dampak selanjutnya, yakni menghasilkan Kehidupan. Tetapi, jika karena dorongan manusiawi mereka, maka mereka tidak mengenal kasih Allah dengan benar dan tidak memahami gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Sebab tindakan tersebut bukanlah tindakan seruan untuk mengalahkan maut, tetapi menantang maut. Dan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, adakah mereka berempati dan mengulurkan tangannya? Atau angkat tangan dan tidak bertanggung jawab dengan dalil-dalil atau alasan-alasan pembenaran diri dengan mengatakan (1) orang tua mereka juga menyerukan hal itu atau (2) menghakimi orang lain dengan tindakan tanpa doa terlebih dahulu?
Jika alasan orang tua dijadikan dalil, maka, nyatalah bahwa ajaran mereka adalah perintah atau tiruan manusia. Dan jika kedua alasan itu dipakai untuk mengelak atau lepas tanggung jawab dengan seruannya, maka hal ini cenderung memperlihatkan diri mereka sebagai pribadi yang tidak memiliki keberanian seperti keberaniannya saat menyerukan ajakan untuk bertindak dengan iman dalam arogansinya yang menantang maut. Dan hal ini lebih memperlihatkan bahwa mereka bukan hanya tidak mengenal kasih Allah dengan benar dan tidak tahu memahami bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah. Tetapi dia adalah seorang nabi palsu atau ahli penyesat yang ahli memutar balik kebenaran. Sangat menyedihkan hidup sebagai pemberita Firman Tuhan yang demikian.
Iman Dalam Kebenaran adalah sebuah keyakinan dalam pengharapan dengan melangkah selaras dengan pimpinan Kuasa Roh Allah yang diteguhkan dengan Firman-Nya sendiri dan yang setelah diuji akan memberi dampak untuk suatu kehidupan manusia dan sesama bagi Kemuliaan Allah semata.
Seperti yang tertulis dalam Amsal 22:3 atau 27:12 yang telah penulis uraikan di atas.
Mereka yang menindaki iman mereka selaras dengan Amsal tersebut, merupakan salah satu ciri kehidupan orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan yang mengenali Allahnya dan memahami gaya hidup yang benar sebagai anak-anak Allah yaitu gaya hidup yang hatinya melekat dengan Tuhan Allah (Mzm. 91:14).
Iman Dalam Kebenaran adalah sebuah keyakinan dalam pengharapan dengan melangkah selaras dengan pimpinan Kuasa Roh Allah yang diteguhkan dengan Firman-Nya sendiri dan yang setelah diuji akan memberi dampak untuk suatu kehidupan manusia dan sesama bagi Kemuliaan Allah semata.
Seperti yang tertulis dalam Amsal 22:3 atau 27:12 yang telah penulis uraikan di atas.
Mereka yang menindaki iman mereka selaras dengan Amsal tersebut, merupakan salah satu ciri kehidupan orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan yang mengenali Allahnya dan memahami gaya hidup yang benar sebagai anak-anak Allah yaitu gaya hidup yang hatinya melekat dengan Tuhan Allah (Mzm. 91:14).
Kehidupan dalam Keberanian yang disertai Kebijaksanaan (Hikmat) yang mengandung Ketaatan untuk dapat melahirkan Kehidupan.
Iman Dalam Kebenaran di sini bukan saja bergerak dari keyakinan dalam pengharapan tetapi juga bergerak dalam ketaatan dan penundukan diri pada otoritas.
Iman Dalam Kebenaran di sini bukan saja bergerak dari keyakinan dalam pengharapan tetapi juga bergerak dalam ketaatan dan penundukan diri pada otoritas.
Bukankah pemerintah (Presiden dan atau Pemda setempat) mendeklarasikan Social Distancing (Jaga Jarak Dengan Masyarakat Umum) dan Psycal Distancing (Jaga Jarak Sentuh) kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tinggal di rumah dan mengurangi keluar ke tempat umum yang banyak kerumunan demi menurunkan dan bahkan mencegah perluasan penyebaran corona-virus tersebut? Meskipun deklarasi itu tidak membuat CoViD19 tersebut lenyap. Karena mereka bukan Tuhan Allah yang Mahakuasa.
Dan deklarasi pemerintah membutuhkan ketaatan. Tapi seruan AH dan AW adalah Keberanian tanpa Kebijaksanaa (Hikmat) yang mengandung Ketaatan. Dan hasilnya sama dengan pemberontakan terhadap Firman Tuhan. Dan mengarah kepada kebinasaan.
Apalagi social distancing (Himbauan Jaga Jarak) tersebut dideklarasikan bukan untuk kecelakaan tetapi untuk kebaikan diri sendiri dan banyak orang.
Seperti yang telah di bahas di atas yang telah penulis uraikan tentang iman dalam kebenaran yang merupakan tindakan ketaatan akan Firman Tuhan melalui penundukan diri terhadap otoritas.
Tapi Ingat! TUNDUK DAN TAAT DALAM KEBENARAN!
Hal itu penulis maksudkan adalah ketika kita bertindak untuk menyatakan iman pengharapan kasih kita tergenapi atau terlaksana dalam kehidupan kita, maka perlu juga kita bertindak dalam ketaatan dan tunduk terhadap otoritas, agar segala sesuatu yang terkait dengan social distancing tersebut tidak menjadi boomerang bagi kita sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan kedepannya.
Mengapa? Karena kekristenan selalu di sorot mengenai pengajaran Kebenaran Hikmat dan Kuasa Tuhan Yesus sebagai Allah Pencipta Langit dan Bumi yang adalah Allah Yang Hidup. Jika orang-orang Kudus Yesus Tuhan yang dianugerahi otoritas untuk memimpin orang-orang kudus-Nya yang lain, melakukan seperti Even di Italy contohnya, lalu banyak dari orang-orang Kudus Kristus yang taat dan tunduk terhadap otoritas yang Tuhan anugerahkan itu datang dan beribadah. Kemudian terinfeksi dan meninggal, apakah lembaga siap mengcover What They NEED? Abaikan saja paragraph ini.
Jika kita rujuk social distancing ini dan lock down ke dalam keadaan saat seluruh anak sulung Mesir di musnahkan. Bangsa Israel diam di dalam rumah, tidak keluar dan hanya mengadakan perjamuan bersama keluarga sembari menandai rumah mereka dengan darah. Ini berarti ada persekutuan (ibadah) keluarga dan ketaatan pada kehendak Tuhan dengan memberi tanda darah sebagai meterai kehidupan.
Seperti yang telah di bahas di atas yang telah penulis uraikan tentang iman dalam kebenaran yang merupakan tindakan ketaatan akan Firman Tuhan melalui penundukan diri terhadap otoritas.
Tapi Ingat! TUNDUK DAN TAAT DALAM KEBENARAN!
Hal itu penulis maksudkan adalah ketika kita bertindak untuk menyatakan iman pengharapan kasih kita tergenapi atau terlaksana dalam kehidupan kita, maka perlu juga kita bertindak dalam ketaatan dan tunduk terhadap otoritas, agar segala sesuatu yang terkait dengan social distancing tersebut tidak menjadi boomerang bagi kita sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan kedepannya.
Mengapa? Karena kekristenan selalu di sorot mengenai pengajaran Kebenaran Hikmat dan Kuasa Tuhan Yesus sebagai Allah Pencipta Langit dan Bumi yang adalah Allah Yang Hidup. Jika orang-orang Kudus Yesus Tuhan yang dianugerahi otoritas untuk memimpin orang-orang kudus-Nya yang lain, melakukan seperti Even di Italy contohnya, lalu banyak dari orang-orang Kudus Kristus yang taat dan tunduk terhadap otoritas yang Tuhan anugerahkan itu datang dan beribadah. Kemudian terinfeksi dan meninggal, apakah lembaga siap mengcover What They NEED? Abaikan saja paragraph ini.
Jika kita rujuk social distancing ini dan lock down ke dalam keadaan saat seluruh anak sulung Mesir di musnahkan. Bangsa Israel diam di dalam rumah, tidak keluar dan hanya mengadakan perjamuan bersama keluarga sembari menandai rumah mereka dengan darah. Ini berarti ada persekutuan (ibadah) keluarga dan ketaatan pada kehendak Tuhan dengan memberi tanda darah sebagai meterai kehidupan.
Apa yang dilakukan oleh Musa dan Harun yang merupakan pemimpin besar saat itu?
Mereka mengajak Bangsa Israel untuk melakukan social distancing dan lockdown tersebut atau menjadikan saat itu sebagai saat yang tepat untuk pekabaran Injil? "Ayo-ayo, hai orang-orang Mesir, dengarlah dan ikutilah seruan yang diberikan ke kami agar anak-anak sulung kalian tidak tertimpa tulah dan mati. Tetapi agar mereka tetap hidup.!" Tidak ada dituliskan adanya pekabaran Injil bukan. Benar! Mereka taat meskipun hanya sebuah social distancing dan Lockdown sehari semalam. Bukan sebuah Lockdown seperti yang Tuhan lakukan terhadap Nuh dan keluarganya selama kurang lebih 375 hari. Hitungan penulis mengikuti hari-hari yang tertulis dalam Kejadian Nuh dan Air Bah.
Nuh saja taat mengerjakan bahtera sebagai bagian untuk keselamatan hidupnya bersama keluarga meski dia terhina di ejek di tertawakan dan mungkin dianggap gila dan penakut - paranoid dan sejenisnya.
Social Distancing dan Psycal Distancing merupakan HIMBAUAN untuk Jaga Jarak Dengan masyarakat Umum dan Jaga Jarak Sentuh disertai lockdown yang hanya beberapa Minggu disampaikan karena menghargai HAK bebas manusia. Memilih taat untuk hidup yang baik atau melanggar untuk kecelakaan diri dan yang dampaknya ke orang lain?
Tetapi manusia kecenderungannya adalah ego dan arogan. Mereka meremehkan saat masih awal. Setelah akibatnya memakan waktu yang telah melewati kejadian Nuh, mereka baru mulai mengikuti aturan, Itu pun bukan TAAT. Ketaatan penuh hanya dilakukan oleh sebagian umat pilihat - prang-orang Kudus-Nya yang mengenal Allah. Ketaatan yang separuh hati dilakukan oleh kebanyakan gereja yang hanya mengerti saja siapa Allah berdasarkan egonya.
Jika di teliti secara seksama tulisan ilham Roh Allah, memang telah dinyatakan fakta arogansi manusia Allah - fakta geliat gentar iblis dalam wujud varian muslihatnya dalam interfensi - fakta Kasih Kuasa Kemurahan Allah sebagai pemegang kendali dalam otoritas penuh Roh Kudus-Nya dalam Kristus Yesus Tuhan sebagai ALLAH Manusia Sejati.
Tetapi Tuhan selalu menekankan kepada umat pilihan-Nya untuk memilih kehidupan dan bukan kematian ketika Tuhan Allah menghimbau dengan pilihan kehidupan atau kematian. Tuhan tetap berusaha menekankan untuk kehidupan yang dipilih oleh umat-Nya. Dan pemerintah juga bertindak demikian. Manusia dihargai hak bebasnya tapi banyak mereka yang tidak mengerti dihargai apalagi menghargai orang lain.
Orang dihargai untuk kebaikan diri saja tidak mengerti bagaimana bisa mengerti orang lain?
Lain hal dengan mereka yang bekerja mencari nafkah penghidupan di bawah otoritas. (Ini di ambil dari contoh realita Perusahaan Penanam Modal Asing di bidang Produksi Eksport Aksesoris Perak - Kuningan dan Sepuhan Emas di Kota Denpasar - Bali).
Tetapi Tuhan selalu menekankan kepada umat pilihan-Nya untuk memilih kehidupan dan bukan kematian ketika Tuhan Allah menghimbau dengan pilihan kehidupan atau kematian. Tuhan tetap berusaha menekankan untuk kehidupan yang dipilih oleh umat-Nya. Dan pemerintah juga bertindak demikian. Manusia dihargai hak bebasnya tapi banyak mereka yang tidak mengerti dihargai apalagi menghargai orang lain.
Orang dihargai untuk kebaikan diri saja tidak mengerti bagaimana bisa mengerti orang lain?
Lain hal dengan mereka yang bekerja mencari nafkah penghidupan di bawah otoritas. (Ini di ambil dari contoh realita Perusahaan Penanam Modal Asing di bidang Produksi Eksport Aksesoris Perak - Kuningan dan Sepuhan Emas di Kota Denpasar - Bali).
Jika pemilik otoritas pada perusahaan tersebut tidak bijaksana dan atau bahkan menjadikan kondisi social distancing dan psycal distancing epidemi pandemi corona virus ini sebagai alasan kesempatan untuk merumahkan (dengan muslihat terselubung pemecatan) tanpa jaminan, atau mengambil keuntungan dengan memberi jadwal kerja demi tidak membayar jerih payah stafnya secara penuh sedangkan mereka dengan tenang beristirahat di rumahnya demi menjaga kebugaran dan kesehatannya. Maka, hanya Tuhan saja yang juga akan membijaksanai segala sesuatu yang mereka lakukan. Sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus yang mengalami kondisi ini, tetaplah meresponi hal ini dengan positif meskipun kenyataannya motivasi – maksud – tujuan mereka negatif. Lakukan pekerjaan seperti yang diterapkannya. Tidak perlu menilai hati atau karakter mereka dengan motivasi – maksud – tujuan yang tidak benar. It’s not your business. It’s not your part. Biarkan itu menjadi urusan dan kehendak Tuhan semata. Tetaplah bersyukur dan teguh melangkah dalam Iman Dalam Kebenaran kepada Allah Yang Hidup Yang Mahakuasa dalam Kristus Yesus Tuhan. Sebab Dia adalah Allah Yang Adil dan Mahakuasa yang sanggup menolong, melindungi, memelihara dan memberi kehidupan di saat yang tidak mungkin bagi dunia tetapi tidak mustahil bagi Allah. Dan Dia bahkan sanggup menjadikan orang-orang Kudus-Nya di tempat itu bersinar untuk penyataan Kemuliaan-Nya sebagai Allah yang berdiam di dalam orang-orang Kudus-Nya dan mereka di dalam Dia. Berdoalah dan anugerahkan pengampunan bagi mereka meskipun perlakuan mereka sungguh telah sangat amat menyakitkan dan menimbulkan luka di hati. Berlakulah sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan yang Allahnya bukan Allah yang punya mata tapi buta, punya telinga tapi tuli, punya mulut tapi bisu, punya tangan tapi tidak bisa terulur untuk menolong menopang menyelamatkan atau menatang hidup umat-Nya dan punya kaki tapi tidak bisa melangkah memberi langkah Kasih dan Keadilan.
Bukan! Bukan Demikian!
Tuhan Yesus Kristus adalah Pribadi Allah Manusia Sejati Yang Hidup dan Pribadi Allah Pencipta Langit Bumi.
Memang jika dilihat dari sudut pandang dua sisi, maka sisi satu seperti memperlihatkan tindakan yang benar. Karena perusahaan pribadi mana yang mau membayar jerih payah stafnya dengan penuh kalau alasan kotor yang dibuatnya adalah karena produksinya dibatalkan? Lebih baik mem-PHK. Dan perusahaan mana yang mau kehilangan staf yang masih menguntungkan sementara waktu yang dia mau? Sehingga dia menerapkan sistem kerja terjadwal untuk mempertahankan staf yang menguntungkan baginya untuk waktu yang dia tentukan agar mereka hanya mendapat bayaran jerih payah mereka sesuai dengan hari kerja mereka yang dijadwalkan dengan tugas dan tanggung jawab yang tetap full. Dan sisi kedua memperlihatkan karakter pengusaha yang licik dan kejam. Karena mereka mem-PHK tanpa sangu. Dan setelah memberi jadwal, dia akan mengubah sekehendak hatinya karena dia adalah pemilik yang punya hak dan kuasa atas usahanya. Sama seperti perlakuan Laban terhadap Yakub bukan? Jadi apapun bisa dia lakukan untuk mengurangi pembayaran upah stafnya yang dijadwalkan kerja tersebut semau-maunya dia. Perhatikan kehidupan Yakub dalam perlakuan Laban dan yang dilakukan Allah Yang Hidup!
Memang jika dilihat dari sudut pandang dua sisi, maka sisi satu seperti memperlihatkan tindakan yang benar. Karena perusahaan pribadi mana yang mau membayar jerih payah stafnya dengan penuh kalau alasan kotor yang dibuatnya adalah karena produksinya dibatalkan? Lebih baik mem-PHK. Dan perusahaan mana yang mau kehilangan staf yang masih menguntungkan sementara waktu yang dia mau? Sehingga dia menerapkan sistem kerja terjadwal untuk mempertahankan staf yang menguntungkan baginya untuk waktu yang dia tentukan agar mereka hanya mendapat bayaran jerih payah mereka sesuai dengan hari kerja mereka yang dijadwalkan dengan tugas dan tanggung jawab yang tetap full. Dan sisi kedua memperlihatkan karakter pengusaha yang licik dan kejam. Karena mereka mem-PHK tanpa sangu. Dan setelah memberi jadwal, dia akan mengubah sekehendak hatinya karena dia adalah pemilik yang punya hak dan kuasa atas usahanya. Sama seperti perlakuan Laban terhadap Yakub bukan? Jadi apapun bisa dia lakukan untuk mengurangi pembayaran upah stafnya yang dijadwalkan kerja tersebut semau-maunya dia. Perhatikan kehidupan Yakub dalam perlakuan Laban dan yang dilakukan Allah Yang Hidup!
Kecuali jika kejahatan pemilik usaha tersebut memaksa membawa kepada dosa, maka putuskan hubungan kerjanya karena itu adalah maut. Hal ini juga dilakukan Yakub terhadap Laban.
Uraian 2 paragraph di atas, penulis berikan contoh salah satu yang bisa dikategorikan ketakutan Paranoid plus. Paranoid plus seorang usahawan yang disurvei dari realita kehidupan staf-stafnya. Pengusaha ini adalah seorang yang ber-Agama bukan ber-Keyakinan.
Meskipun mungkin AGAMA yang dianut adalah AGAMA Kristen. Tetapi berAGAMA Kristen belum tentu berKEYAKINAN Kristen. Orang yang berKEYAKINAN Kristen, dia mengenal Kasih Allah dan memahami gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Sedangkan orang yang berAGAMA Kristen, dia tidak mengenal Kasih Allah dan tidak memahami gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Banyak kita dapat bedakan kehidupan berAGAMA dengan berKEYAKINAN. Pada blogger sebelumnya, penulis telah menyampaikan tentang hal AGAMA dan KEYAKINAN. Dalam hal ini, maka seseorang yang berkeyakinan Kristen, lebih benar mengucap syukur dan teguhlah melangkah dengan Iman Dalam Kebenaran kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah Yang Hidup yang sanggup menolong, menyelamatkan, melindungi, memelihara dan menjaga kehidupan serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus-Nya. Sebab tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Dia. Tidak ada sesuatu apapun menjadi tidak mungkin bagi Dia Allah Yang Mahakuasa. Penulis ulangi sekali lagi, berilah respon positif meskipun kenyataannya sangat amat negatif. Berdoalah bagi penganiaya-penganiaya itu dan anugerahkan pengampunan meskipun mungkin sulit melakukannya karena sangat menyakitkan hati. Itulah belas kasih dari Kasih Allah.
Uraian 2 paragraph di atas, penulis berikan contoh salah satu yang bisa dikategorikan ketakutan Paranoid plus. Paranoid plus seorang usahawan yang disurvei dari realita kehidupan staf-stafnya. Pengusaha ini adalah seorang yang ber-Agama bukan ber-Keyakinan.
Meskipun mungkin AGAMA yang dianut adalah AGAMA Kristen. Tetapi berAGAMA Kristen belum tentu berKEYAKINAN Kristen. Orang yang berKEYAKINAN Kristen, dia mengenal Kasih Allah dan memahami gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Sedangkan orang yang berAGAMA Kristen, dia tidak mengenal Kasih Allah dan tidak memahami gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Banyak kita dapat bedakan kehidupan berAGAMA dengan berKEYAKINAN. Pada blogger sebelumnya, penulis telah menyampaikan tentang hal AGAMA dan KEYAKINAN. Dalam hal ini, maka seseorang yang berkeyakinan Kristen, lebih benar mengucap syukur dan teguhlah melangkah dengan Iman Dalam Kebenaran kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah Yang Hidup yang sanggup menolong, menyelamatkan, melindungi, memelihara dan menjaga kehidupan serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus-Nya. Sebab tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Dia. Tidak ada sesuatu apapun menjadi tidak mungkin bagi Dia Allah Yang Mahakuasa. Penulis ulangi sekali lagi, berilah respon positif meskipun kenyataannya sangat amat negatif. Berdoalah bagi penganiaya-penganiaya itu dan anugerahkan pengampunan meskipun mungkin sulit melakukannya karena sangat menyakitkan hati. Itulah belas kasih dari Kasih Allah.
"Belajarlah Pada Teladan Tuhan Yesus Kristus Yang Adalah Allah Pencipta Langit Bumi Yang Telah Mengosongkan Diri Menjadi Manusia Dan Yang Telah Sempurna Mengalahkan Noda Keberdosaan Yang Melekat Dalam Hidup Manusia Karena Keberdosaan Adam - Keberdosaan Nenek Buyut - Keberdosaan Diri Sendiri Selama Hidup. Dan Tuhan Dengan Penuh Kerelaan Hati Memikul Dosa Isi Dunia Dengan Kerelaan-Nya Menyerahkan Nyawa-Nya Di Kayu Salib Untuk Menyatakan Kehidupan Berkemenangan Di Hari ketiga Kematian-Nya Dengan Kebangkitan-Nya Yang Membawa Pendamaian Bagi Orang-Orang Kudus-Nya Dan Menjadikannya Lebih Dari Pemenang Dengan Kemuliaan-Nya Dan Menganugerahkan Kehormatan Di Bumi dan Di Sorga Dengan Anugerah Roh Kudus Saat Kenaikan Tuhan Ke Sorga."
Kembali ke topik 1 paragraph di atas. Lalu bagaimana jika dua paragraph tersebut di atas terjadi dalam kepemimpian berKEYAKINAN? Maka, sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan, tetaplah juga bersyukur dan teguhlah melangkah dalam Iman Dalam Kebenaran kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah Yang Hidup yang sanggup menolong, menyelamatkan, melindungi, memelihara dan menjaga kehidupan serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus-Nya. Sebab tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Dia. Tidak ada sesuatu apapun menjadi tidak mungkin bagi Dia - Allah Yang Mahakuasa.
Dan bagi pemimpin yang berAGAMA, segala sesuatu yang dilakukannya ada kebijakan yang akan dilakukan oleh Tuhan Yang Mahabijak dalam kehendak-Nya. Demikian pun dengan kepemimpinan yang berKEYAKINAN, Tuhan pasti akan menginsafkan mereka dengan segera dan membuat mereka membenahi tatanan kepemimpinan yang dipercayakan Tuhan kembali ke dalam tatanan Kebenaran selagi dia masih bernafas. Karena nafas itulah kesempatan baginya untuk berbenah diri.
Jadi, Iman Dalam Kebenaran adalah keyakinan teguh dalam pengharapan yang benar dengan tindakan yang selaras dalam Kebenaran sehingga dampaknya adalah memberi kehidupan bagi diri sendiri dan bahkan bagi orang lain dan Nama Tuhan Yesus dimuliakan. Bukan sebuah keyakinan teguh dalam pengharapan yang benar dengan tindakan yang selaras dengan arogansi logis dalam kebenaran manusiawi sehingga dampaknya membawa maut bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain dan Nama Tuhan Yesus dihinakan.
Dan kondisi epidemi pandemi corona-virus ini membuat penulis ingin membagikan lagu yang dapat membangkitkan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dimanapun berada. Lagu yang menggambarkan kondisi saat ini seperti sebuah kondisi yang mengancam karena geliat iblis dalam ketakutannya telah menunjukkan kesejatian pemberontakan dan kemarahannya melalui intimidasinya untuk melemahkan kekuatan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan yang melangkah bersama Tuhan mereka. Lagu tentang Kekuasaan Allah yang menguatkan dan meneguhkan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dan yang telah menghancurkan kekuatan iblis. Lagu tentang keMahakuasaan Allah yang sanggup menolong menyelamatkan menyembuhkan memelihara dan melindungi serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dan menguatkan mereka melangkahkan Iman Dalam Kebenaran.
Dengan dilampirkannya lagu oleh penulis blogger, penulis ucapkan pengharapan penulis bagi pembaca blogger: “Kiranya Tuhan Yesus Menguatkan Langkah Iman Dalam Kebenaran Bagi Para Pembaca dan Menyertai Langkah Iman Dalam Kebenaran itu Kepada Dampak Yang Memberi Kehidupan Bagi Diri Sendiri dan Bagi Orang Lain Sampai Tuhan Datang dan Mengangkat Orang-Orang Kudus-Nya Termasuk Penulis dan Pembaca Blogger”
Imanuel.
so
Let’s sing together
C-hrist Jesus
O-ur Lord Sōzō - σώζω
R-escued Saved Healed and Kept Us (Provided)
Forever and Ever
O-vercome His enemies
Brokedown in Calvary
so
N-one can become a hinderer
His covenant to us forever
or
A-buse us in the weakness
‘Cause Christ Jesus Lord Sōzō - σώζω
He was Rescued Saved Healed and Kept Us (Provided)
With sign of His Blood
Praise Him
Praise Him
Christ Jesus
Praise Him
Praise Him
Our Lord Sōzō - σώζω
Praise Him
Praise Him
Christ Jesus Lord Sōzō - σώζω
Kembali ke topik 1 paragraph di atas. Lalu bagaimana jika dua paragraph tersebut di atas terjadi dalam kepemimpian berKEYAKINAN? Maka, sebagai orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan, tetaplah juga bersyukur dan teguhlah melangkah dalam Iman Dalam Kebenaran kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah Yang Hidup yang sanggup menolong, menyelamatkan, melindungi, memelihara dan menjaga kehidupan serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus-Nya. Sebab tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Dia. Tidak ada sesuatu apapun menjadi tidak mungkin bagi Dia - Allah Yang Mahakuasa.
Dan bagi pemimpin yang berAGAMA, segala sesuatu yang dilakukannya ada kebijakan yang akan dilakukan oleh Tuhan Yang Mahabijak dalam kehendak-Nya. Demikian pun dengan kepemimpinan yang berKEYAKINAN, Tuhan pasti akan menginsafkan mereka dengan segera dan membuat mereka membenahi tatanan kepemimpinan yang dipercayakan Tuhan kembali ke dalam tatanan Kebenaran selagi dia masih bernafas. Karena nafas itulah kesempatan baginya untuk berbenah diri.
Jadi, Iman Dalam Kebenaran adalah keyakinan teguh dalam pengharapan yang benar dengan tindakan yang selaras dalam Kebenaran sehingga dampaknya adalah memberi kehidupan bagi diri sendiri dan bahkan bagi orang lain dan Nama Tuhan Yesus dimuliakan. Bukan sebuah keyakinan teguh dalam pengharapan yang benar dengan tindakan yang selaras dengan arogansi logis dalam kebenaran manusiawi sehingga dampaknya membawa maut bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain dan Nama Tuhan Yesus dihinakan.
Dan kondisi epidemi pandemi corona-virus ini membuat penulis ingin membagikan lagu yang dapat membangkitkan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dimanapun berada. Lagu yang menggambarkan kondisi saat ini seperti sebuah kondisi yang mengancam karena geliat iblis dalam ketakutannya telah menunjukkan kesejatian pemberontakan dan kemarahannya melalui intimidasinya untuk melemahkan kekuatan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan yang melangkah bersama Tuhan mereka. Lagu tentang Kekuasaan Allah yang menguatkan dan meneguhkan Iman Dalam Kebenaran orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dan yang telah menghancurkan kekuatan iblis. Lagu tentang keMahakuasaan Allah yang sanggup menolong menyelamatkan menyembuhkan memelihara dan melindungi serta memberi keamanan bagi orang-orang Kudus Kristus Yesus Tuhan dan menguatkan mereka melangkahkan Iman Dalam Kebenaran.
Dengan dilampirkannya lagu oleh penulis blogger, penulis ucapkan pengharapan penulis bagi pembaca blogger: “Kiranya Tuhan Yesus Menguatkan Langkah Iman Dalam Kebenaran Bagi Para Pembaca dan Menyertai Langkah Iman Dalam Kebenaran itu Kepada Dampak Yang Memberi Kehidupan Bagi Diri Sendiri dan Bagi Orang Lain Sampai Tuhan Datang dan Mengangkat Orang-Orang Kudus-Nya Termasuk Penulis dan Pembaca Blogger”
Imanuel.
The Corona Viruses Deseas19 are viruses that come from
the evil.
It has the number of the beast of man
who has the engineer of evil to intimidate all people of God.
And his number is six hundred and
sixty-six.
The Corona of the beast has been
destroyed by the Word of God
“Our Lord Sōzō”
Let’s sing together
C-hrist Jesus
O-ur Lord Sōzō - σώζω
R-escued Saved Healed and Kept Us (Provided)
Forever and Ever
O-vercome His enemies
Brokedown in Calvary
so
N-one can become a hinderer
His covenant to us forever
or
A-buse us in the weakness
‘Cause Christ Jesus Lord Sōzō - σώζω
He was Rescued Saved Healed and Kept Us (Provided)
With sign of His Blood
Praise Him
Praise Him
Christ Jesus
Praise Him
Praise Him
Our Lord Sōzō - σώζω
Praise Him
Praise Him
Christ Jesus Lord Sōzō - σώζω
Komentar
Posting Komentar