HIDUP BERAGAMA ATAU HIDUP BERKEYAKINAN


Salam Kasih yang Sempurna dalam Kebenaran Kristus Yesus Tuhan. Salam jumpa kembali dalam pokok bahasan Agama dan Keyakinan.

Bagi penulis, orang beragama belum tentu berkeyakinan kepada Tuhan Sang Pencipta. Tetapi orang berkeyakinan adalah orang yang tidak beragama, tetapi memiliki keyakinan tentang Tuhan Sang Pencipta sebagai kebenaran. Orang yang tidak beragama bukanlah orang yang tidak ber-Tuhan (Atheis). Tetapi orang Atheis, sudah pasti tidak ber-Tuhan. Orang Atheis tidak kurang sedikit dari orang beragama. Karena itu, bagi penulis, ‘karena hidup beragamalah muncul ketidakpercayaan kepada Tuhan Allah yang benar, karena mereka sendiri bukanlah orang-orang yang berkeyakinan sebagai yang dibenarkan oleh Tuhan Allah yang mampu membenarkan orang berdosa yang berkeyakinan kepada-Nya.’

Dalam kehidupan sosial manusia, kecenderungan yang dikatakan sebagai kehidupan yang memancarkan keyakinan adalah agamanya. Seperti misalnya Agama Hindu, maka orang-orang sudah langsung mempunyai prediksi bahwa mereka adalah penyembah para dewa. Atau Agama Islam, konotasinya adalah kepada Nabi Muhammad sebagai rasullulah yang mengajarkan Allahhu Akbar. Buddhisme yang meyakini Sidharta adalah Buddha yang menjadi teladan para pengikutnya untuk mencapai penerangan dengan ajaran yang didasarkan kepada “kasih”.
Tetapi bagaimana dengan Kekristenan?
Dalam Alkitab, terutama dalam ITB Keyakinan tentang Kebenaran itu diterjemahkan dengan Agama. Mari bersama kita buka dan baca Firman Tuhan dalam buku catatan Injil Matius pasal 5 ayat 20 demikian: “Maka Aku (Tuhan Yesus) berkata kepada kamu (para murid): Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Agama dalam bahasa asli Yunaninya adalah δικαιοσυνη (dikaiosune) dari akar kata δικαιος (dikaios) yang artinya kebenaran ilahi,/kebenaran yang dijalankan dimana Allah adalah sumbernya.
Jadi, kekristenan sebenarnya bukanlah agama. Tetapi sebuah keyakinan akan kebenaran yang memerdekakan di dalam Kristus Yesus Tuhan.
Karena itu, hidup beragama bagi penulis adalah merupakan kehidupan yang menjadi penghantar kepada apa yang diyakini sebagai kebenaran. Tetapi hidup berkeyakinan adalah hidup tentang kepercayaan kepada kebenaran yang memerdekakan orang yang berkeyakinan itu.
Bagi penulis, hidup beragama adalah hidup yang lebih mengarah kepada kehidupan yang kaya dengan tradisi-tradisi atau yang lebih kepada tiruan logika manusia ayau ajaran turun temurun nenek moyang. Tetapi hidup berkeyakinan adalah hidup yang mengarah kepada kepercayaan pada sesuatu yang pasti benar karena bersumber dari Allah sebagai Sumber Kebenaran dan tidak meniru logika manusia.

Seperti bacaan Firman Tuhan di atas dalam buku catatan Injil Matius pasal 5 ayat yang ke 20 dikatakan jika penulis sesuaikan dengan terjemahan asli bahasa Yunani versi bahasa Inggris AV atau KJV atau The Message dituliskan demikian: “…., kecuali jika kebenaranmu tidak jauh melampaui kebenaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan tahu hal utama untuk masuk dalam Kerajaan Sorga.” Ini berarti bahwa jelas kekristenan adalah suatu keyakinan kebenaran yang lebih tinggi nilainya dari suatu keberagamaan. Kekristenan adalah suatu keyakinan yang membawa setiap orang-orangnya memahami bagaimana masuk dan menjadi bagian dalam Kerajaan Sorga. 
Kekristenan bukanlah wadah yang membawa setiap orang membenarkan diri dan menyalahkan orang lain. Bukan pencetak hakim-hakim di dunia ini karena hanya Allah dalam Yesus Kristus saja adalah Hakim. Karena keyakinannya telah menjadikannya sebagai yang dibenarkan. Jadi tidak perlu mencari pembenaran diri. Tuhan Yesus Kristus sendirilah yang akan membenarkannya dengan memunculkan kebenarannya seperti cahaya di waktu tengah hari (Mz37.6). 
Kekristenan bukanlah suatu keyakinan untuk membela yang disembahnya karena sesembahannya yaitu Yesus Kristus Tuhan adalah Allah Pencipta yang sanggup membela Kebenaran-Nya sendiri tanpa kekuatan manusia. Yesus Kristus adalah Tuhan Allah yang telah berkenan menjadi manusia untuk membenarkan manusia di dalam Diri-Nya dalam Kematian-Nya di Salib agar manusia berdosa beroleh pendamaian dan hidup kekal dalam Kerajaan-Nya di Sorga melalui Kebangkitan-Nya . Dan Dia yang sekarang kembali kepada hakekat ke-Allahan-Nya untuk mempersiapkan tempat di dalam Kerajaan-Nya bagi setiap orang yang mempercayai-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. (Jangan melihat kepada perkara Pinehas dalam Bilangan 25.11 karena konteksnya berbeda!)

Sedangkan keberagamaan adalah suatu wadah yang menggiring setiap orang-orang di dalamnya kepada berbagai tradisi-tradisi untuk membenarkan agamanya dan menyalahkan agama lainnya. Bahkan melakukan pembelaan untuk membenarkan bahwa yang disembahnya adalah kebenaran. Ia memang kebenaran, tetapi kebenaran tentang dirinya yang bukan Tuhan Allah Sang Pencipta melainkan baal (Hak.6:31), sehingga tangan manusialah yang bergerak membelanya.

Dan dalam pembahasan disini, penulis tidak fokus kepada hidup beragama yang lain. Tetapi pokok pembahasan penulis adalah tentang hidup beragama dan hidup berkeyakinan dalam Kekristenan.

Jadi, jika dibuatkan perbandingan, maka akan dapat dipelajari pemahaman tentang hidup beragama dan hidup berkeyakinan dalam kekristenan itu demikian:

A.    Hidup Beragama Kristen

1.      Selalu berpegang pada tradisi
Contoh:
Setiap tanggal 25 Desember dirayakan sebagai kelahiran Kristus. Padahal, sesungguhnya hal itu merupakan sejarah dimana para gembala “bapak gereja” saat itu, di daerah Eropa terjadi pertobatan dari penyembah dewa-dewa termasuk Dewa Surya (Dewa Matahari) kepada Kristus yang dimaknai sebagai Dialah Terang Dunia, maka, demi mencegahnya mereka yang masih punya kecenderungan ikut dalam tradisi penyembahan kelahiran Dewa Surya yang tak terkalahkan setiap tanggal tersebut, para gembala mengadakan peribadatan di gereja dengan berkiblat kepada Kristus Yesus Tuhan sebagai Terang Dunia yang tak terkalahkan.

2.      Selalu membenarkan diri dengan berbagai alasan untuk membela kebenarannya.
Contoh:
Ketika telah mengetahui kebenaran tentang tradisi 25 Desember tersebut, mereka tetap mempertahankan setiap tanggal tersebut menjadi sesuatu yang harus dipertahankan sebagai pembelaan kebenaran yang keliru. Sehingga, jika dirayakan perayaan Natal Kristus di hari dan bulan yang lain, atau ada yang tidak merayakan saat itu sebagai hari kelahiran Kristus, maka mereka cenderung menghakimi, bahwa yang tidak merayakan merupakan sekumpulan orang-orang sesat yang tidak menghargai kelahiran Kristus.

3.      Selalu berpadanan pada hukum yang mengikat.
Contoh:
3.1. Dalam memberi persembahan
Jika tidak memberi persembahan (termasuk perpuluhan), tidak diberkati. Padahal dalam Alkitab Perjanjian Baru, bukan lagi bicara sepersepuluh, tetapi hidup,  tubuh seutuhnya (hal ini konteksnya diarahkan kepada sepenuh hidup kita / 100%)  dan dengan sukarela dan sukacita. Jika berbicara materi, maka berikan dengan sukacita dan sukarela. Bukan dengan berharap dikembalikan berkali lipat. Bukan pula karena berkelimpahan bisa memberi banyak atau berkekurangan hanya bisa memberi sedikit. Juga bukan dipaksa dan terpaksa dengan intimidasi atau karena teintimidasi dengan kata-kata kotbah yang MENGHAKIMI!
Dapatkah dipahami tentang persembahan yang diberikan oleh janda tua di Bait Allah yang mendapat pujian dari Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang yang benar dalam memberi? Bukan karena seluruh uangnya yang menjadi fokus Tuhan. Tetapi sikap hati dari janda tersebut. Sebab, kebenaran Alkitab selalu membahas bahwa Tuhan berkenan pada kebenaran hati manusia.
Seandainya orang kaya zaman sekarang yang bisa umroh ke Tanah Perjanjian berkali-kali memberi 100% dengan hati yang benar bukan dengan tujuan mengintimidasi atau menghakimi yang tidak bisa memberi, orang yang demikian pasti mendapat perkenanan Tuhan seperti janda miskin itu.
Jadi jika bisa memberi sepersepuluh atau bahkan lebih dari sepersepuluh dengan sikap hati yang benar, maka kebenaran Firman Allah terjadi dalam kehidupannya. Karena Dia berjanji dan janji-Nya menghidupkan dan meneguhkan orang yang yakin kepada-Nya.
Jadi berikanlah persembahan dengan sikap hati yang benar dan dengan pemahaman yang benar bahwa memberi adalah untuk saling memberkati agar keseimbangan hidup di dalam kekristenan itu tercipta dan kesejahteraan keluarga dalam kekristenan itu terjaga.
Bukan kesejahteraan yang satu terpelihara - membunuh kehidupan yang lainnya karena intimidasi dan adanya pengucilan.
Janganlah menghakimi! Karena HAK Penghakiman itu HANYA milik ALLAH dan bagi beberapa orang-orang tertentu pilihan Allah yang telah duduk di takhta-takhta di Kerajaan Allah. Tuhan sudah menganugerahkan kepada kita sesuatu yang luar biasa di kehidupan saat ini atau di kehidupan kekekalan nanti sebagai imamat rajani. 1 Petrus 2.9 dan Wahyu 20:4 (4b),6

3.2. Dalam memahami kekristenan
Kekristenan bukanlah agama tetapi tentang keyakinan kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya yang benar.
Jadi, orang beragama Kristen bukan berarti berkeyakinan Kristen. Dan orang berkeyakinan Kristus, sudah pasti hidup dalam kepercayaan kepada kebenaran dalam Kristus.
Kehidupan Kekristenan adalah kehidupan yang tidak meniru pada ajaran kebenaran lain jikapun itu adalah kebenaran. Tetapi bukanlah kebenaran yang pasti Ya dan Amin. Kebenaran yang sanggup memerdekakan dan membebaskan manusia dari dosa dan maut.
Dalam hal ini misalnya mengenai “Manusia Berhutang”.
Orang-orang percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya yang benar adalah bukan orang-orang yang hidup lagi dibawah hutang. Kristus Yesus Tuhan menjadi manusia dan memberi Diri-Nya di salib dan mati di sana bukan membuat manusia yang percaya kepada-Nya memiliki hutang kepada-Nya. Penyerahan Hidup Tuhan Yesus Kristus untuk mati di Kayu Salib adalah karena kerelaan-Nya untuk manusia yang diciptakan-Nya bisa beroleh pembebasan dan penebusan dari hukum dosa kepada hukum kemerdekaan yang membuat manusia menuju ke kehidupan yang kekal dalam Kerajaan Sorga.
Tuhan Yesus Kristus tidak pernah mengilhamkan kebenaran tentang Karya-Nya di Kayu Salib dalam Alkitab sebagai sesuatu yang harus diyakini untuk pada akhirnya manusia terikat kepada hutang pada Karya-Nya di Kayu Salib. Tidak. Tuhan telah meneladankan tentang sikap hati yang benar selama hidup sampai pada kematian dan kebangkitan-Nya. Kunci utama dalam berkeyakinan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya hanyalah “Percaya!” Dan ketika orang-orang banyak menjadi percaya, Tuhan hanya meminta sikap hati yang benar dalam menghidupi kekristenannya. Dan sikap hati tersebut berpadanan dengan Kasih dan Kebenaran yang Sempurna. Apa saja yang terkandung dalam Kasih? Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidal memegahkan diri dan tidak sombong,tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Karena itu, Kasih tak berkesudahan dan Kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Dalam Hukum Kasihlah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Apa itu Kebenaran? Kebenaran tentang teladan hidup Kristus Yesus dalam Alkitab. Bahwa apapun yang harus dilakukan sebagai orang-orang percaya yang telah dimerdekakan dan dibenarkan, lakukanlah dengan pemahaman bahwa itu semua sebagai ucapan syukur telah menjadi bagian yang tidak beroleh kebinasaan melainkan hidup kekal. Bukan pemahaman karena berhutang atas keselamatan yang diterima.
Apa itu Sempurna? Sempurna itu segala sesuatu tanpa cacat cela tiada noda tiada kesalahan,
Jika kita melakukan semua itu, justru hal itu dianggap menghutangi Allah untuk segera bertindak melakukan Kuasa-Nya dalam hidup kita.

4.      Hidup beragama Kristen cenderung memicu perpecahan karena kecenderungan meniru sistem hidup beragama lainnya.
Contoh:
Ketika agama disinggung, cenderung membalas dengan melontarkan kata agamakulah yang benar dan agamu tidak. Agamaku membawaku kepada kehidupan tapi agamamu membawa kematian. Agamamu itu mengumpulkan pahala kebaikan dengan membunuh dan dengan poligami. Agamamu adalah penyembahan kepada baalisme. Dan lain sebagainya yang serupa itu. Akhirnya membuat ricuh, memancing kemarahan dan dendam, lalu mengarah kepada saling membunuh untuk menjadi sahid atau martir demi agama dan Tuhan. Apakah Tuhan perlu di bela? Atau karena Dia Manusiakah, sehingga perlu di lindungi dan di bela?

5.      Lebih mengarah kepada ajaran Nikolaus yang Sinkritisme.
Contoh:
Demi kedamaian, ikut menjadi serupa dengan ajaran di luar Kristus yang penting Yesus tetap di hati. Karena Tuhan melihat hati. Hati sebelah mana?  Sebelah kiri, sebelah kanan atau separuhnya saja dari kiri atau kanan?

B.     Hidup Berkeyakinan Kepada Kristus Yesus Tuhan

1.      Selalu berpegang pada kebenaran Firman Tuhan yang keseluruhannya tertulis dalam Alkitab tentang Kristus dan Kekristenan. Karena di dalam Dia ada Janji Yang Menghidupkan dan Meneguhkan orang-orang yang meyakini-Nya sebagai satu-satunya Allah yang benar.

2.      Selalu menyerahkan pembelaan ke dalam Kuasa Tuhan Yesus. Karena Tuhan adalah TUHAN. Dialah Pencipta Alam Semesta. Dia bukan manusia yang perlu pembelaan. Tapi Dialah Yang Empunya Hak Membela Kebenaran-Nya. Dia sanggup tanpa manusia yang di ciptakan-Nya.

3.      Selalu berjalan sesuai hukum-hukum yang memerdekakan. Hukum yang terpakukan di dalam Nama Yang Begitu Indah dan Berkuasa, yaitu Nama Yesus Kristus Tuhan. Karena seluruh hukum tergantung pada-Nya. Pada Sumber Segalanya, yaitu Yesus Kristus Tuhan.

4.      Selalu menghasilkan buah Roh dan penyataan Kuasa Roh dalam Kristus Yesus Tuhan. Karena manusia yang berkeyakinan kepada Tuhan Yesus Kristus hanya dapat dikenali dari buahnya dan dari gaya hidupnya yang menjadi berkat bagi orang lain dan bukan mendatangkan kutuk atau sumpah serapah. Kecuali bagi orang yang memang sungguh-sungguh benar-benar anti-Kristus.

5.      Selalu mengacu kepada pengajaran kebenaran di dalam Kristus Yesus Tuhan.

Salam diberkati dalam Kasih dan Kebenaran yang Sempurna. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kasih dan Kebenaran yang Sempurna