Apakah Dalam Kebohongan Ada Kebenaran?

Saudara saudari terkasih, salam kebenaran dalam kebenaran Kristus Yesus.

Mari belajar bersama kembali dengan tema: Apakah Dalam Kebohongan Ada Kebenaran?

Penulis membagikan hal ini berdasarkan realitas hidup manusia yang ada di sekitar lingkungan hidup sosialisasi manusia yang majemuk. Dalam kehidupan yang demikian, seringkali berkumandang perkataan seperti ini: Berbohong Demi Kebaikan.

Apakah benar berbohong memiliki tujuan untuk kebaikan? Dan apakah Alkitab menyetujui hal itu sebagai kebenaran yang berbuah kebaikan sehingga dalam kebohongan ada kebenaran?

Mari bersama penulis membaca tulisan yang diilhamkan Allah dalam buku Amsal 12.17,20 demikian: "Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya. Tipu daya ada di dalam hati orang yang merencanakan kejahatan, ..."

Dari tulisan Amsal ini, jelaslah Alkitab menentang kebohongan. Lalu, apakah masih bisa di katakan bahwa berbohong adalah demi kebaikan?

Dari pengalaman penulis sendiri termasuk dari hasil survey penulis dengan metode observasi di lingkungan masyarakat yang ada, sesungguhnya kebohongan yang demikian sudah dirancangkan untuk kepentingan diri sendiri yaitu ego si perancang. Dan bagi seseorang yang menjadi landasan dari statemen yang demikian, pada mulanya ia mengecap rasa manis seperti rasa madu. Tetapi yang sesungguhnya bukan madu yang sedang dikecapnya. Tetapi aspartame. Suatu zat yang mengandung divaldehida dan kandungan asam amino yang merusak saraf. 
Rasa manis dari bahan kimia yang sangat berbahaya bukan? Mengapa? Karena dia menarik kadar cairan manis alami yang dihasilkan lidah yang di stimulasi oleh zat kimia yang terkandung dalam aspartame tersebut.

Demikianlah yang terjadi pada seseorang yang menjadi korban kebohongan, ketika pada akhirnya dia tahu bahwa dia telah dibohongi. Rasa yang selama dia dibohongi berubah seperti empedu memecah dan meracuni seluruh organ sistem pada tubuhnya. Ia seperti penjepit arteri, seperti bilah mengiris hati dan seperti sengatan yang membuat jantung berhenti berdetak.

Kebohongan itu bukan demi kebaikan orang yang dibohongi. Tetapi untuk ego si pembohong yang hanya berpusat untuk diri sendiri.

Lalu, bagaimana jika situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk menerima kebenaran saat itu? Misalnya dia sedang sakit parah. Apakah mengatakan kebohongan dapat menghindarkannya dari anfal yang dapat menyebabkan kematiannya?

Jika situasi dan kondisinya demikian, bukankah Allah sumber hikmat dapat memberi kata-kata bijaksana untuk menyampaikan kebenaran itu tanpa harus berbohong?

Karena itu mulut orang benar mengeluarkan hikmat. (Mz37.30)

Dan perlu waktu untuk menyampaikannya. Di masa transisi penyampaian ini, perlu doa yang utama. Mencari waktu yang tepat tidaklah sama dengan berbohong. Di masa transisi untuk menyampaikan kebenaran merupakan waktu untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengeluarkan pertanyaan yang harus di jawab berhubungan dengan kondisinya. Tetapi, jika pada saat transisi dia bertanya bagaimana kondisi sebenarnya, maka jawaban yang belum tepat disampaikan saat itu lebih baik di umpan balik secara bijaksana dengan menanyakan bagaimana ia merasakan dirinya atau menyadarkan dia untuk fokus dulu untuk mengikuti apa yang perlu dilakukan untuk kondisinya bisa sampai pada situasi dan kondisi yang tepat untuk menerima jawaban pertanyaannya. Di saat ini adalah benar untuk membangun mesbah doa bersama. Katakan saja bahwa bagi TUHAN tiada yang mustahil, demikian juga bagi setiap orang yang opercaya kepada-Nya, TUHAN YANG MAHAKUASA, tidak ada yang mustahil juga untuk menerima apa yang kita hendak terima dalam Perkenanan-Nya. Tunjukkan wajah yang sungguh-sungguh meyakini Kedaulatan Kuasa Tuhan melalui perkataan yang kita sampaikan tersebut. Jangan pernah berkata keyakinan dengan topeng. Bukankah lidah orang bijak mendatangkan hikmat dan kesembuhan? (Mz37.30; As12.18).

Karena itulah tidak mungkin memberi jawab seperti menyampaikan kabar gembira atau kabar duka bukan?

Seperti juga ada tertulis: "Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya mendatangkan kebaikan dan seperti buah apel emas di pinggan perak." (As15.23; 25.11).

Mungkin awalnya saat dia mendengar kebenaran dia bersedih. Tetapi itu hanya sesaat saja. Dan segera akan memberi pengertian, kekuatan dan pemulihan. Karena kebenaran itu memerdekan dan menyelamatkan. Apalagi telah di bawa ke dalam doa. (Y8.32; As12.6).

Seperti kata dunia: "Jujur lebih baik meskipun menyakitkan daripada berbohong menyenangkan dan pada akhirnya mematikan bagi diri sendiri dan juga orang yang dibohongi.

Lalu, bagaimana dengan kebohongan Paulus yang di kecam bangsanya seperi yang tertulis dalam suratnya di Roma 3.7 demikian: "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman."

Kebohongan yang dikatakan Paulus adalah mengenai pemberitaannya tentang Injil yaitu tentang Yesus adalah Kristus. Dialah Mesias. Dialah Allah Manusia sejati. Allah yang berinkarnasi sebagai Manusia sejati. Sedangkan telah di ketahui sebelumnya bahwa dia adalah seorang pemburu dan pembunuh sadis murid Tuhan? Dan bahwa dia juga seseorang yang menolak eksistensi Yesus sebagai Kristus.

Tetapi akan dusta yang dijadikan kecaman oleh bangsanya, dia pun telah menentang mereka dengan mengatakan jika dengan berbuat jahat di anggap dapat menimbulkan kebaikan, selayaknyalah yang demikian mendapat hukuman. Tetapi Yesus telah membenarkan Paulus karena kepercayaannya kepada-Nya dan pemberitaannya tentang-Nya sebagai yang benar-benar Mesias. Jadi, dimana letak dustanya? Dusta karena sebelumnya dia menolak eksistensi Kristus atau kebenarannya menyampaikan kebenaran eksistensi Kristus setelah dia mengalami pembenaran-Nya?

Hal dusta yang dikecamkan kepada Paulus merupakan hasil propaganda bangsanya sendiri terhadapnya. Karena sebelumnya Paulus menentang kebenaran Yesus adalah Kristus telah memberitakan Yesus adalah Kristus dan mempercayai-Nya sebagai Allah - Manusia Sejati setelah dia melihat cahaya memancar dari langit di jalan ke Damsyik. (Kpr9.3-18).

Dan mengenai kebohongan atau dusta, Allah telah menganggap hal itu sebagai suatu kekejian. (As12.22). Dan celakalah mereka yang melakukannya. (Ys5.20). Dan yang demikian tidak layak masuk dalam Kerajaan-Nya. (Wh21.28). Karena iblislah sumber kebohongan itu. Dialah bapa mereka. Bapa pendusta. Dialah yang punya niatan untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan. Sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Segala dustanya berasal dari kehendaknya sendiri. (Y8.44; 10.10).

Jadi, Apakah Dalam Kebohongan Ada Kebenaran? Apakah ada bau kehidupan atau kematian? Masihkah ada kebohongan demi kebaikan di dalam anak-anak Allah yang telah beroleh pembenaran?

Salam di berkati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Kasih dan Kebenaran yang Sempurna